PERBANDINGAN TAFSIR SALAF DAN KONTEMPORER

PERBANDINGAN TAFSIR SALAF DAN KONTEMPORER

A. PENDAHULUAN
Al-Qur’an yang merupakan bukti kebenaran Nabi Muhammad SAW, sekaligus petunjuk untuk umat manusia kapan dan di mana pun, memiliki pelbagai macam keistemewaan. Keistimewaan tersebut, antara lain, susunan bahasanya yang unik memesonakan, dan pada saat yang sama mengandung makna-makna yang dapat dipahami oleh siapa pun yang memahami bahasanya, walaupun tentunya tingkat pemahaman mereka akan berbeda-beda akibat berbagai faktor.
Redaksi ayat-ayat Al-Qur’an, sebagaimana setiap redaksi yang diucapkan atau ditulis, tidak dapat dijangkau maksudnya secara pasti, kecuali oleh pemilik redaksi tersebut. Hal inilah yang kemudian menimbulkan keanekaragaman penafsiran. Dalam hal Al-Qur’an, para sahabat Nabi sekalipun, yang secara umum menyaksikan turunnya wahyu, mengetahui konteksnya, serta memahami secara alamiah struktur bahasa dan arti kosakatanya, tidak jarang berbeda pendapat, atau bahkan keliru dalam pemahaman mereka tentang maksud firman-firman Allah yang mereka dengar atau mereka baca itu sehingga tidak menutup kemungkinan perbedaan faham dan bagaimana metode mengkaji yang berbeda-beda pula.
Hal inilah yang akhirnya timbul banyak penafsiran, situasi, kondisi, sosio kultural sangat mempengaruhi pula dari hasil penafsiran ayat tersebut, selain itu belum lagi faktor Subjektivitas mufasir, konteks, baik asbab al-nuzul, hubungan atar ayat, maupun kondisi sosial masyarakat, serta perkembanagan zaman yang menuntut para mufassir untuk mengkaji dan mengkaji kembali ayat-ayat Al-Qur’an, karena melihat permasalahan saat ini semakin kompleks dan beragam berbeda dengan beratus-ratus abad yang lalu, sehingga dala proses pentafsiran Al-Qur’an juga harus mengalami perkembangan, karenaa kita tahu Al-Qur’an adalah pijakan utama dalam diskursus permasalahan-permasalahan yang ada, agar mampu menjawab permasalah yang terus berkembang seiring perkembanagn zaman ini.

B. PEMBAHASAN
1. Biografi
a. Ibnu Katsir
Nama lengkap Ibnu Katsir adalah Imaduddin Abul Fida Ismail bin Umar bin Katsir bin Dhau bin Katsir bin Zara’ al-Qaisi al-Bashri al-Dimsyiqi al-Syafi’i, yang kemudian lebih dikenal dengan sebutan Ibnu Katsir. kelahiran Ibnu katsir pada 701 H, Ibnu Katsir dilahirkan di desa Mujidal dan mulai menimba ilmu di Damaskus, sebagaimana yang diungkapkan oleh al-Daawi (w. 945 H.) dalam kitab “Thabaqatu al-Mufassirin”: pada saat ayahnya meninggal sehingga kemudian Ibnu Katsir diasuh oleh pamannya Abd Wahab. Pada tahun 706 H, diusia 5 tahun beliau pindah dan menetap di kota Damaskus. Disini beliau memperdalam kitab fiqh dan hadits dengan berguru kepada Ibn Taimiyyah. Dengan kecintaan terhadap ilmu agama serta berkembang pesat ilmunya menjadikan Ibn Katsir memiliki derajat tinggi diantara lainnya dan oleh Imam Dahbi menggolongkannya sebagai kelompok pengkonsep para huffadz “Ibnu Katsir banyak menyimak pelajaran, semangat dalam menghafal matan Hadits, menguasai ilmu sanad, rijal Hadits dan sejarahnya, sehingga ia benar-benar menjadi orang yang sangat menguasai ilmu-ilmu tersebut di saat usianya yang masih muda. Sedangkan wafatnya, Para ahli sejarah sepakat bahwa tahun wafatnya Ibnu Katsir adalah pada 774 H di Damaskus dan dikuburkan bersebelahan dengan makam gurunya, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah. Meski kini beliau telah lama tiada, tapi peninggalannya akan tetap berada di tengah umat, menjadi rujukan terpercaya dalam memahami Al-Qur’an serta Islam secara umum. Umat masih akan terus mengambil manfaat dari karya-karyanya yang sangat berharga. Hal ini dapat dilacak dari kitab biografi ulama seperti yang tertulis dalam kitab: Thabaqatu al-Mufassirin.

b. Metodologi Tafsir
metodologi tafsir yang digunakan oleh ibnu katsir adalah Al-Tafsir bi al-Ma’tsur, Al-Tafsir bi al-Ma’tsur adalah penafsiran ayat dengan ayat; penafsiran ayat dengan hadits Rasulullah SAW. Yang menjelaskan makna sebagian ayat yang dirasa sulit dipahami oleh para sahabat; atau penafsiran ayat dengan hasil ijtihad para sahabat; atau penafsiran hasil ijtihad para tabi’in. Para ulama mengatakan bahwa tafsir Ibnu Katsir adalah sebaik-baik tafsir yang ada di zaman ini, karena ia memiliki berbagai keistimewaan. Keistimewaan yang terpenting yakni -tafsir yang paling benar- adalah ; tafsir Alquran dengan Alquran sendiri; bila penafsiran Alquran dengan Alquran tidak didapatkan, maka Alquran harus ditafsirkan dengan hadis Nabi Muhammad SAW menurut Alquran sendiri, Nabi memang diperintahkan untuk menerangkan isi Alquran; jika yang kedua tidak didapatkan, maka Alquran harus ditafsirkan oleh pendapat para sahabat karena merekalah orang yang paling mengetahui konteks sosial turunnya Alquran; jika yang ketiga juga tidak ditemukan, maka pendapat dari para tabiin dapat diambil. Seorang ulama kontemporer Muhammad Rasyid Ridho memaparkan bahwa tafsir Ibn Katsir merupakan tafsir paling masyhur yang memberikan perhatian besar terhadap apa yang diriwayatkan dari para mufasir salaf dan menjelaskan makna-makna ayat dan hukum-hukumnya serta menjauhi perbahasan i’rab dan cabang-cabang balaghah yang pada umumnya dibicarakan secara panjang lebar oleh kebanyakan mufasir; juga menjauhi pembicaraan yang melebar pada ilmu-ilmu lain yang tidak diperlukan dalam memahami Qur’an secara umum atau memahami hukum dan nasihat-nasihatnya secara khusus. Dengan metode bil matsur, tafsir ini memberikan keunikan dan bobot tersendiri. Selain berhati-hati dan teliti dalam menafsirkan al-qur’an, juga memberikan kemudahan dalam memahami isi kandungan al-qur’an. Selain juga menyebutkan hadits-hadits yang berhubungan dengan ayat tersebut dilanjutkan dengan penafsiran para sahabat dan para tabiin Beliau juga sering mentarjih diantara beberapa pendapat yang berbeda, mengomentari riwayat yang shoheh atau yang dhoif (lemah). mengomentari periwayatan isroiliyyat. Dalam menafsirkan ayat-ayat hukum, ia menyebutkan pendapat para Fuqaha (ulama fiqih) dengan mendiskusikan dalil-dalilnya, walaupun tidak secara panjang lebar. Imam Suyuthy dan Zarqoni menyanjung tafsir ini dengan berkomentar; Sesungguhnya belum ada ulama yang mengarang dalam metode seperti ini. Dengan keunikan itulah tafsir Ibn Kasir dijadikan rukukan oleh para ulama dan mufassir hingga sekarang.
a. Qurais Shihab
Nama lengkapnya adalah Muhammad Quraish Shihab. Ia lahir tanggal 16 Februari 1944 di Rapang, Sulawesi Selatan. Ia berasal dari keluarga keturunan Arab yang terpelajar. Ayahnya, Prof. KH. Abdurrahman Shihab adalah seorang ulama dan guru besar dalam bidang tafsir. Abdurrahman Shihab dipandang sebagai salah seorang tokoh pendidik yang memiliki reputasi baik di kalangan masyarakat Sulawesi Selatan.
Untuk mewujudkan cita-citanya, ia mendalami studi tafsir, pada 1980 QuraishShihab kembali menuntut ilmu ke almamaternya, al-Azhar, mengambil spesialisasi dalam studi tafsir al-Qur’an. Ia hanya memerlukan waktu dua tahun untuk meraih gelar doktor dalam bidang ini. Disertasinya yang berjudul “Nazm ad-Durar li al-Biqa’i Tahqiq wa Dirasah (Suatu Kajian terhadap Kitab Nazm ad-Durar [Rangkaian Mutiara] karya al-Biqa’i)” berhasil dipertahankannya dengan predikat summa cum laude dengan penghargaan Mumtaz Ma’a Martabah asy-Syaraf al-Ula (sarjana teladan dengan prestasi istimewa).
Pendidikan Tingginya yang kebanyakan ditempuh di Timur Tengah, Al-Azhar, Cairo ini, oleh Howard M. Federspiel dianggap sebagai seorang yang unik bagi Indonesia pada saat di mana sebagian pendidikan pada tingkat itu diselesaikan di Barat. Mengenai hal ini ia mengatakan sebagai berikut: Ketika meneliti bio¬grafinya, saya menemukan bahwa ia berasal dari Sulawesi Selatan, terdidik di pesantren, dan menerima pendidikan ting¬ginya di Mesir pada Universitas Al-Azhar, di mana ia mene¬rima gelar M.A dan Ph.D-nya. Ini menjadikan ia terdidik lebih baik dibandingkan dengan hampir semua pengarang lainnya yang terdapat dalam Popular Indonesian Literature of the Quran dan, lebih dari itu, tingkat pendidikan tingginya di Timur Tengah seperti itu menjadikan ia unik bagi Indonesia pada saat di mana sebagian pendidikan pada tingkat itu diselesaikan di Barat. Dia juga mempunyai karier mengajar yang penting di IAIN Ujung Pandang dan Jakarta dan kini, bahkan, ia menjabat sebagai rektor di IAIN Jakarta. Ini merupakan karier yang sangat menonjol.
b. Metodologi Penafsiran
Tafsir al-Misbah. Oleh Prof. Dr. M. Quraish Shihab dan diterbitkan oleh Lentera Hati. Tafsir al-Misbah adalah sebuah tafsir al-Quran lengkap 30 Juz pertama dalam kurun waktu 30 tahun terakhir yang ditulis oleh tafsir terkemuka Indonesia. Warna keindonesiaan penulis memberi warna yang menarik dan khas serta sangat relevan untuk memperkaya khasanah pemahana dan penghayatan umat Islam terhadap rahasia makna ayat Allah SWT, dalam buku tafsir ini lebih menggunakan metode tematik atau maudhu’i.
Yang dimaksud dengan metode mawdhu’iy ialah membahas ayat-ayat Al-Quran sesuai dengan tema atau judul yang telah ditetapkan. Semua ayat yang berkaitan, dihimpun. Kemudian dikahi secara mendalam dan tuntas dari berbagai aspek yang terkait dengannya seperti asbab al-nuzul, kosa kata dan sebagainya. Semuanya dijelaskan secara rinci dan tuntas, serta didukung oleh dalil-dalil atau fakta yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah; baik argumen itu berasal dari Al-Qur’an dan Hadits, maupun pemikiran rasional.
Ciri-ciri Metode Mawdhu’iy
Yang menjadi ciri utama metode ini ialah menonjolkan tema, judul atau topik pembahasan; sehingga tidak salah bila di katakan bahwa metode ini juga disebut metode “topikal”. Jadi mufasir mencari tema-tema atau topik-topik yang ada si tengah masyarakat atau berasal dari Al-Qur’an itu sendiri, ataupun dari yang lain. Kemudian tema-tema yang sudah dipilih itu dikaji secara tuntas dan menyeluruh dari berbagai aspek, sesuai dengan kapasitas atau petunjuk yang termuat di dalam ayat-ayat yang ditafsirkan tersebut. Artinya penafsiran yang diberikan tak boleh jauh dari pemahaman ayat-ayat Al-Qur’an, agar tidak terkesan penafsiran tersebut berangkat dari pemikiran atau terkaan belaka (al-Ra’y al-Mahdh).
Sementara itu Prof. Dr. Abdul Hay Al-Farmawy seorang guru besar pada Fakultas Ushuluddin Al-Azhar, dalam bukunya Al-Bidayah fi Al-Tafsir Al-Mawdhu’i mengemukakan secara rinci langkah-langkah yang hendak ditempuh untuk menerapkan metode mawdhu’i. Langkah-langkah tersebut adalah :
(a) Menetapkan masalah yang akan dibahas (topik);
(b) Menghimpun ayat-ayat yang berkaitan dengan masalah tersebut;
(c) Menyusun runtutan ayat sesuai dengan masa turunnya, disertai pengetahuan tentang asbab al-nuzulnya;
(d) Memahami korelasi ayat-ayat tersebut dalam surahnya masing-masing;
(e) Menyusun pembahasan dalam kerangka yang sempurna (out-line);
(f) Melengkapi pembahasan dengan hadits-hadits yang relevan dengan pokok bahasan;
(g) Mempelajari ayat-ayat tersebut secara keseluruhan dengan jalan menghimpun ayat-ayatnya yang mempunyai pengertian yang sama, atau mengkompromikan antara yang ‘am (umum) dan yang khas (khusus), mutlak dan muqayyad (terikat), atau yang pada lahirnya bertentangan, sehingga kesemuanya bertemu dalam satu muara, tanpa perdebatan atau pemaksa.
Dalam perkembangannya dalam metode maudu’i ada dua penyajian yang pertama menyajikan dengan mengambil kotak berisikan pesan-pesan Al-Qur’an yang terangkum dalam satu surat Al-Qur’an. Penyajian kedua dengan menyajikan sesuai denga tema hal ini ternyata menjadi lebih mudah ketika kita menemukan permasalahan dan mencari jawabannya.
2. Perbandingan Tafsir Klasik dan Modern
a. Contoh Ayat
                                                                  
2. Dan berikanlah kepada anak-anak yatim (yang sudah balig) harta mereka, jangan kamu menukar yang baik dengan yang buruk dan jangan kamu Makan harta mereka bersama hartamu. Sesungguhnya tindakan-tindakan (menukar dan memakan) itu, adalah dosa yang besar.
3. Dan jika kamu takut tidak akan dapat Berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yang yatim (bilamana kamu mengawininya), Maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi : dua, tiga atau empat. kemudian jika kamu takut tidak akan dapat Berlaku adil, Maka (kawinilah) seorang saja[266], atau budak-budak yang kamu miliki. yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya.
4. Berikanlah maskawin (mahar) kepada wanita (yang kamu nikahi) sebagai pemberian dengan penuh kerelaan. kemudian jika mereka menyerahkan kepada kamu sebagian dari maskawin itu dengan senang hati, Maka makanlah (ambillah) pemberian itu (sebagai makanan) yang sedap lagi baik akibatnya.
b. Penafsiran Ibnu Katsir
Menurut tafsir dari Ibnu Katsir “Allah swt dalam firmannya ini memerintahkan orang menyerahkan kepada anak-anak yatim harta mereka jika mereka sudah mencapai dewasa (baligh) dan melarang orang memakan harta anak yatim atau mencampur baurkannya dengan hartanya sendiri. Allah berfirman janganlah kamu menukar yang buruk, yaitu menukar harta anak yatim dengan yang baik, yaitu memakan harta halalmu sendiri. Perbuatan yang demikian itu merupakan dosa besar.
Allah berfirman bahwa jika kamu takut tidak dapat berlaku adil terhadap anak yatim perempuan yang berada di bawah perwalianmu yang kamu ingin mengawininya, maka carilah wanita lain untuk menjadi istrimu, dua, tiga atau empat sesuka hatimu, namun jika terhadap istri-istri yang lebih dari satu itu, kamu takut tidak dapat berlaku adil dalam perlakuan terhadap mereka mengenai pelayanan, pakaian, tempat giliran bermalam dan lain-lain, maka hendaklah kamu beristrikan satu orang saja atau cukup dengan budak-budak yang kamu miliki.
Mengenai hukum poligami dalam Islam, menurut Imam Syafi’i berdasarkan sunnah Rasulullah, tidaklah diperbolehkan seorang beristri lebih dari empat. Pendapat itu telah menjadi Ijma’ oleh para ulama, kecuali golongan para ulama Syi’ah bahwa orang boleh beristrikan lebih dari empat sampai dengan sembilan, mereka itu bersandar pada perbuatan Rasulullah yang beristrikan lebih dari satu malah sampai sembilan. Akan tetapi alasan itu di tolak oleh mayoritas ulama Islam dan bersandar pada beberapa hadits Rasul. mereka berpendapat bahwa apa yang diperbuat oleh Rasulullah itu adalah merupakan kekhususan bagi beliau sebagai Rasul.
Menurut Ibnu Katsir ada beberapa hadits yang diriwayatkan serta menunjukan bahwa seseorang boleh poligami akan tetapi tidak lebih dari empat, diriwaayatkan oleh imam Ahmad dari Ibnu Syihab bahwa Ghailan bin salamah beristrikan sepuluh orang, takkala masuk Islam. Oleh Rosulullulah ia disuruh memilih empat dari sepuluh istri itu.
Pada ayat ke 4, Ibnu Katsir menjelaskan bahwa sesuai dengan firman Allah bahwasanya hendaklah kamu memberikan mas kawin, kepada wanita yang kamu nikahi yang besar kesilnya mahar di tetapkan oleh kedua belah pihak, serta diberikan dengan ikhlas dan senang hati. Serta digunakan menjadi sesuatu yang bermanfaat. Diriwayatkan oleh Husyaim dari Saiyar, dari Abi Shaleh bahwa ayat keempat ini turun untuk mencegah kebiasaan bahwa seorang ayah tidak menyerahkan maskawin pada putrinya yang dinikahkan tetapi di ambil sendiri, hal ini sangat bertentangan dengan perintah Allah, apalagi hal ini terjadi pada anak perempuan yatim.
c. Penafsiran Qurais Shihab
Dalam penafsiran Qurais shihab sesungguhnya sangat mendalam sekali dalam menjelaskan ketiga ayat tersebut namun penulis mencoba merangkum serta memetik hal-hal yang paling urgent dalam tugas ini setidaknya perbedaan yang paling menonjol dari kedua tafsir tersebut. ayat 2 menyatakan bahwa tentang siapa yang harus dipelihara hak-haknya dalam rangka bertakwa kepada Allah, tentu saja yang utama, adalah yang paling lemah dan yang paling lemah adalah anak yatim karena itu yang diingatkan pertama kali adalah mereka, terkait dengan ayat kedua tersebut ayat ini lebih ditekankan pada perlindungan harta anak-anak yatim serta tidak diperkenankan menukar dengan harta yang dimilikinya sendiri karena justru makan harta anak yatim menjadi haram. Karena pada dasarnya, dengan menggabungkan harta keduanya dapat dibenarkan.
Selanjutnya pada penafsiran ayat ke tiga setelah ayat ke dua menjelaskan tentang perlindungan harta anak yatim pada ayat ketiga ini lebih kepada melindungi pribadi anak yatim terutama para yatim perempuan, di ayat ini menyatakan bahwasanya ketika wali ingin menikahi anak yatim maka jika tidak mampu berlaku adil nikahi wanita lain, atau budak-budak wanita. Meski demikian untuk memahami adil juga tidak mudah menurut pak qurais keadilan adalah sebagaimana yang dapat menjadikan kedua belah pihak merasa senang, sedangkan adil adalah berlaku baik terhadap orang lain maupun diri sendiri, tapi masalahnya keadilan itu bias saja tidak menyenangkan salah satu pihak.
Selain itu Qurais juga menjelaskan bahwa poligami bukanlah anjuran akan tetapi wadah itupun dengan syarat yang sangat ketat, Qurais juga memaparkan Istri-istri yang dipoligami Nabi berdasarkan kronologis pada saat itu mengapa nabi sampai menikahi para janda tersebut. Lembaran ini yang kadang di lewatkan oleh segelintir orang yang begitu mudahnya melakukan poligami.Disisi lain menurut penulis setelah membaca tafsir Qurais, Qurais juga menjelaskan bahwa kalaupun memang poligami adalah sunnah maka ada sunnah yang khusus dan sunnah yang umum, yang khusus seperti wajib sholat tahajud, keluarga nabi tidak boleh menerima zakat dan lain sebagainya.
Qurais juga menjelaskan bahwasanya apabila tuhan menghendaki poligami maka situasi kondisi daitur sedemikian rupa agar poligami dapat teraplikasi dengan baik seperti halnya dengan memperbanyak wanita dari pada laki-laki namun kenyataannya seperti adanya bencana alam yang ternyata lebih banyak laki-laki yang selamat apakah hal itu menunjukan legalnya sebuah poligami, hal inilah yang harus menjadi pertimbangan yang cukup matang untuk memahami sebuah ayat Al-Qur’an.
Selain menyinggung tentang poligami frrman Allah () yang artinya hamba sahaya yang kamu miliki, menunjuk kepada suatu kelompok masyarakat yang ketika itu mereka merupakan salah satu fenomena umum masyarakat manusia di seluruh dunia. Kita yakin bahwasanya Allah dan rosul tidak menghendaki adanya perbudakan namun sekali lagi Al-Qur’an tidak langsung merubahahnya secara drastis akan tetapi dengan proses yang bertahap salah satunya dengan pernikahan antara laki-laki merdeka dan wanita sahaya sehingga anak yang dihasilkan menjadi merdeka begitu pula ibunya.
Selanjutnya mamahami ayat ke 4, pada penjelasan ayat ini lebih ditekankan pada kerelaan dalam memberikan mahar, meski mahar tidaklah menjadi persyaratan akan tetapi mahar sebagai bukti dari ketulusan sebuah janji meski mahar itu hanya dari cincin besi akan tetapi di berikan dengan ketulusan dan kerelaan maka hal itu lebih berharga ketimbang harta yang melimpah namun penuh dengan rasa ketidak iklasan. Padadasarnya mahar yang didahului oleh janji adalah symbol bahwa suami siap untuk menafkahi istri selama hidupnya, ayat ini ditekankan karena pada zaman dahulu para wali menikahi anak yatim tidak memberikan mahar yang sewajarnya, dan seungguhnya ayat empat ini juga ditekankan pada seluruh waanita tidak hanya pada anak yatim saja.
d. Analisis
Dari tinjauan kedua ayat tersebut ada beberapa perbedaan yang tentunya sangat menonjol seperti metode penafsiran pada Ibnu Katsir denga metode bil ma’stur, serta penafsiran yang cenderung tekstual tanpa disentuh oleh kultur sosial pada saat itu, meski demikian kitab tafsir ibnu katsir mencantumkan secara lengkap dan terinci hadits-hadits serta pendapat para sahabat terkait kasus tersebut, kare memang pada masa itu masih dekat denga masa sahabat dan para tabi’in.
Sedangkan tafsiran dari pak Qurais menggunakan metode tematik, pembahasanya sudah dielaborasi dengan fakta-fakta social dan diramu sedemikian rupa dengan penjelasan yang begitu panjang dengan berbagai sudut pandang, serta pengaruh kator sosial saat ini yang begitu kentara, sehingga tafsir ini seakan mencoba menyesuaikan dengan perkembangan zaman sehingga dengan penafsiran yang cukup komprehensif mampu menjawab permasalahan-permasalahan yang terus berkembang.
Kedua tafsiran tersebut sesungguhnya dalah tafsiran yang cukup menonjol pada zamannya masing-masing namun demikian perkembangan dan pembaharuan penafsiran jelas tetap harus dilakukan Karena Al-Qur’an sesungguhnya pedoman bagi seluruh alam.
C. PENUTUP
Setelah memberikan satu perbandingan dari kedua tafsiran tersebut mengutip dari pendapat Asgar bahwasanya setiap mufassir dalam menafsirkan sesuatu tidaklah pernah lepas dari presepsi, prespektif, dan factor social yang berkembang saat itu, bias jadi pada masa lalu tafsir Ibnu Katsir adalah yang terpopuler, karena kepandaian serta penguasaan ilmunya yang sangat luas, namun kesesuaian itu akan berbeda jika dibawa pada masa sekarang jelas tafsir Al-Misbah jauh lebih layak untuk dijadikan acuan dalam memahami ayat Al-Qur’an yang dibarengi dengan kasus-kasus saat ini, dan juga dapat diprediksikan beberapa abad yang akan datang tafsir Al-Misbah mengalami pergeseran seiring perkembangan zaman, hal itu adalah wajar setidaknya perkembangan penafsiran tidak mengalami stagnan dan kebekuan.

DAFTAR RUJUKAN
Shihab Quraish, Membumikan Al-Qur’an, (2002) Bandung:Mizan

Shihab, Qurais TAfsir Al-Misbah pesan, kesan, dan keserasian Al-Qur’an (2006) Jakarta: Lentera Hati, Cet: 4, Vol.2.

Shihab, Quraish Wawasan Al-Qur’an, (2000) Bandung : Mizan.

Katsir, Ibnu Terjemah singkat tafsir Ibnu Katsier jilid II, Alih bahasa Salim Bahreisy dan Said Bahreisy(1990). Surabaya: PT Bina Ilmu

Ibnu Katsir, Internet, Website: www. Blog-Muladi Mughni Abdallah-biografi Ibnu Katsir, Diakses pada sening 02 Januari 2010

Tinggalkan komentar

Filed under Uncategorized

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s