KRITIK ABU RAIHAN AL BIRUNI TERHADAP TEORI GEOSENTRIS

A. Pendahuluan

Setelah runtuhnya kebudayaan Yunani dan Romawi, maka kiblat kemajuan ilmu astronomi berpindah ke bangsa Arab. Astronomi berkembang begitu pesat pada masa keemasan Islam. Karya-karya astronomi Islam kebanyakan ditulis dalam bahasa Arab dan dikembangkan oleh para ilmuwan di Timur Tengah, Afrika Utara, Spanyol dan Asia Tengah. Geliat perkembangan astronomi di dunia Islam diawali dengan penerjemahan secara besar-besaran karya-karya astronomi dari Yunani serta India ke dalam bahasa Arab. Salah satu yang diterjemahkan adalah karya Ptolomeus yang termasyhur, Almagest. Berpusat di Baghdad, budaya keilmuan di dunia Islam pun tumbuh pesat.

Dalam bidang ilmu astronomi sendiri, peradaban Islam menjadi pelopor sekaligus peletak pondasi bagi perkembangan ilmu astronomi saat ini. Selama peradabannya, perkembangan astronomi Islam selalu yang terdepan dan menjadi guru bagi perkembangan ilmu astronomi di belahan dunia lain mulai dari China di Timur hingga benua Eropa di Barat. Islam juga melahirkan banyak astronom terkemuka yang namanya selalu terkenang sepanjang masa. Misalnya saja Muhammad Al Fazari, Al Battani (Al Bategnius), Al Biruni, As-Shufi (Azhopi), AL Khawarizmi, Al Farghani, dan lain-lain. Di tangan para astronom Islam tersebut, perkembangan ilmu astronomi terlihat begitu pesat setelah sempat tertatih-tatih pada masa keruntuhan masa keemasan bangsa Yunani. Dari mereka itu kemudian lahir berbagai teori tentang astronomi yang sangat berarti. Selain teori, mereka juga mampu membuat bermacam-macam alat astronomi yang manfaatnya bisa dirasakan langsung oleh masyarakat umum.

Salah satu dari tokoh yang menjadi pesohor dalam hal Ilmu Astronomi adalah Abu Raihan Al-Birruni. Yang banyak memberikan kontribusi terhadap perkembangan Ilmu Astronomi itu sendiri, berbekal dengan otak yang cerdas serta berguru kepada orang-orang yang handal dalam Astrnomi, bereksperimen terus menerus, Al-Birruni mampu mengepakan sayapnya sehingga menerbitkan banyak buku salah satunya adalah Qonun Al-Masudi yang berisi tentang penjelasan Astronomi secara gamblang. Selanjutnya makalah ini akan menjelaskan sedikit resume daripada isi kitab Qonun Al-Mas’udi yang berkaitan dengan bumi

B. Pembahasan

1 Biografi Birruni

Ketika kita tinjau pada masa abad pertengahan lalu biruni adalah tokok yang cukup fenomenal, dan hal ini juga sudah di paparkan oleh makalah sebelumnya, namun tidak menjadi alasan apabila saya singgung sedikit dalam makalah ini tentang biografi biruni. Abu Raihan Al-Biruni (juga, Biruni, Al Biruni) (15 September 973 – 13 Desember 1048) (Persia: ابوریحان بیرونی ; Arab: أبو الريحان البيروني) merupakan matematikawan Persia, astronom, fisikawan, sarjana, penulis ensiklopedia, filsuf, pengembara, sejarawan, ahli farmasi dan guru, yang banyak menyumbang kepada bidang matematika, filsafat, obat-obatan.

Namanya tak diragukan lagi di pentas sains dan ilmu pengetahuan abad pertengahan. Dunia sains mengenalnya sebagai salah seorang putra Islam terbaik dalam bidang filsafat, astronomi, kedokteran, dan fisika. Wawasan pengetahuannya yang demikian luas, menempatkannya sebagai pakar dan ilmuwan Muslim terbesar awal abad pertengahan. ilmuwan besar ini dilahirkan pada bulan September tahun 973 M, di daerah Khawarizm, Turkmenistan. Ia lebih dikenal dengan nama Al-Biruni. Nama “Al-Biruni” sendiri berarti ‘asing’, yang dinisbahkan kepada wilayah tempat tanah kelahirannya, yakni Turkmenistan. Kala itu, wilayah ini memang dikhususkan menjadi pemukiman bagi orang-orang asing.

Dengan bermodalkan penguasaannya terhadap Bahasa Arab, Yunani dan Sansekerta, Biruni mampu menyerap berbagai ilmu pengetahuan langsung dari sumber aslinya. Hasilnya berbagai karya di bidang Matematika, fisika, Astronomi, Kedokteran, Metafisika, Sastra, ilmu Bumi, dan sejarah pun menambah khasanah ilmu pengetahuan. Bahkan ia juga berhasil menemukan fenomena rotasi bumi dan bumi mengelilingi matahari setiap harinya. Dengan tekad mendedikasikan dirinya pada ilmu pengetahuan, Al-Biruni melakukan penelitian terhadap semua jenis ilmu yang ada. Karenanya, banyak ahli sejarah yang menganggap ia sebagai ilmuwan terbesar sepanjang masa. Selain itu, setiap terjun kemasyarakat dan melakukan penelitian, Al-Biruni sangat mudah menyatu dengan lingkungan. Ia pun dikenal sebagai sosok yang penuh toleransi.

Selama perjalanan hidupnya sampai dengan tahun 1048, Al-Biruni banyak menghasilkan karya tulis, tetapi hanya sekitar 200 buku yang dapat diketahui. Diantaranya adalah Tarikh Al-Hindi (sejarah India) sebagai karya pertama dan terbaik yang pernah ditulis sarjana muslim tentang India. Kemudian buku Tafhim li awal Al-Sina’atu Al-Tanjim, yang mengupas tentang ilmu Geometri, Aritmatika dan Astrologi. Sedangkan khusus Astronomi Al-Biruni menulis buku Al-Qanon al-Mas’udi fi al-Hai’ah wa al-Nujum (teori tentang perbintangan). Al-Biruni mengatakan, “Penglihatan menghubungkan apa yang kita lihat dengan tanda-tanda kekuasaan Allah dalam ciptaan-Nya. Dari penciptaan alam tersebut kita dapat menyimpulkan ke Esaan dan ke Agungan Allah.”

Itulah yang menjadi prinsip Al-Biruni selama melakukan penelitian dan percobaan. Ia sama sekali tidak melepaskan ilmu pengetahuan dari agama. Itu pula sebabnya, ia lebih hebat dibandingkan ilmuwan lainnya pada saat itu. Penguasaannya terhadap berbagai ilmu pengetahuan telah menyebabkan ia dijuluki Ustadz fil Ulum “Guru segala Ilmu.” Kesuksesannya pada bidang Sains dan ilmu pengetahuan juga membuat banyak orang kagum, termasuk kalangan ilmuwan barat, salah satunya Max Mayerhoff, “Dia adalah seorang yang paling menonjol di seluruh Planet Bima sakti dan para ahli terpelajar sejagat, yang memacu zaman keemasan ilmu pengetahuan Islam.”

Pendapat ini di setujui oleh Sir JN. Sircar seorang sejarawan asal India. Al-Biruni dengan segala kelebihan yang dimilikinya, telah berjasa memberikan pemikirannya untuk kita ketahui dan kita pelajari. Buku-bukunya banyak diterbitkan di Eropa dan tersimpan dengan baik di Musium Escorial, Spanyol. Al-Biruni wafat dalam usia 75 tahun. Tempat kelahirannya menjadi pilihan untuk menghabiskan sisa hidup dan menghapuskan nafas terakhirnya. Allah telah memberikan sebuah hidup yang sangat berarti bagi Al-Biruni. Ia adalah orang yang benar-benar menggunakan akal dan pikirannya yang di anugrahkan Allah, untuk melihat tanda-tanda kebesaran-Nya.

2 Gerak bumi

Dipandang dari angkasa, bumi bercahaya seperti batu menyala-nyala dalam tatasurya. Bumi sendiri adalah planet ketiga dari delapan planet dalam Tata Surya. Diperkirakan usianya mencapai 4,6 milyar tahun. Dalam perkembangan keilmuan yang berkaitan dengan bumi, bumi mengalami perjalanan yang cukup panjang. Hal ini terbukti dengan beberapa sumber yang menyatakan bahwasanya sejak dulu manusia telah banyak melakukan penelitian-penelitian terkait bumi. Salah satunya adalah gerak bumi.

Dalam perjalanannya teori-teori tentang gerak bumi mulai bermunculan sejak zaman aristotelan hingga terus berkembang sampai pada masa keemasan Islam saat itu. Adapapun Perbedaaan-perbedaan yang menonjol dan cukup lama dalam memahami gerak bumi, yang berdasarkan pada eksperimen-eksperimen yang dilakukan oleh para ilmuan pada masanya tersebut. Dengan penuh liku-liku dan tertatih-tatih perbedaan tersebut akhirnya sampai pada satu kebenaran yang di yakini banyak ilmuan serta dibuktikan dengan penelitian-penelitian.

Dalam Hal ini adalah perbedaan terkait pemahaman Geosentris dan Heliosentris. Dalam makalah ini pemakalah menyampaikan tentang bantahan Al-Biruni terhadap teori Geosentris yang mengacu pada kitab qonun Al-mas’udi. Sebelum membahas lebih dalam pemakalah sedikit menyinggung tentang geosentris dan Heliosentris.

a. Geosentris

Sebuah teori geosentris adalah teori astronomi yang menggambarkan alam semesta sebagai sistem geosentris, yaitu sebuah sistem yang menempatkan Bumi di pusat alam semesta, dan menggambarkan benda-benda lain dari sudut pandang Bumi. Para filsuf Yunani Aristoteles dan Plato menggambarkan seperti teori dimana semua benda angkasa bergerak pada bola mengelilingi bumi, bulan di satu terdalam dan bintang-bintang tetap di satu terluar.

Ptolemy menemukan sistem geosentris yang paling diuraikan, memungkinkan planet tidak hanya untuk bergerak pada lingkaran mengelilingi bumi, tetapi menggunakan epicycles. Dengan menambahkan ide-ide lebih lanjut, ia dapat memprediksi gerakan planet cukup baik. model Ptolemeus adalah sangat populer dari zaman kuno sampai tahun 1600-an, seperti yang perjanjian lebih baik dengan observasi daripada alternatif lain. Modelnya terutama efektif prediksi kosmologis.

b. Heliosentris

Dalam astronomi, heliosentrisme adalah teori yang berpendapat bahwa Matahari bersifat stasioner dan berada pada pusat alam semesta. Kata berasal dari bahasa Yunani (ήλιος Helios = matahari, dan κέντρον kentron = pusat). Secara historis, heliosentrisme bertentangan dengan geosentrisme, yang menempatkan Bumi di pusat alam semesta. Diskusi mengenai kemungkinan heliosentrisme terjadi sejak zaman klasik.

3 Reformasi Geosentris

Sejak perkembangan ilmu pengetahuan terkait bumi dimulai pada masa lampau, reformasi-reformasi itu terus berlanjut walau tertatih-tatih. Mulai dari masa aristoteles yang mengungkapkan bumi itu bulat dengan bukti saat berjalan ke arah selatan atau utara maka tidak akan menemukan bintang yang sama. Fase-fase bulan yang berbeda-beda pula. Kelemahan dari model yang di tawarkan teles adalah belum adanya hitungan matematik, belum dapat menjelaskan faktor penyebab keseimbangan dari benda-benda langit sehingga tidak bertabrakan. Dilanjutkan dengan model alam semesta yang ditawarkan Ptolemy dengan pengembangan serta penyempurnaan dari model aristoteles, didalam model alam semesta yang ditawarkan oleh Ptolemy ini ada satu benda yang disebut eplikus.

4. Perkembangan Geosentris pada masa Islam.

Setelah runtuhnya masa keemasan yunani, masa keemasan Islam mulai menapkan kekuatannya terutama dalam bidang keilmuan di masa dinasti bani abasiyyah. Hal ini terbukti dengan banyak lahirnya para pemikir ilmuwan pada masa itu yang salah satunya adala Abu Raihan Al-Birruni. Sudah sjak lama sebenarnya para ilmuwan Islam mengkaji tentang model geosentris secara detail namun setelah dipelajari dan dianalisa banyak sekali kekurangan-kekurangan didalam teori tersebut. Sehingga para ilmuwan muslim banyak memberikan kritikan serta mencoba menyempurnakan daripada kekurangan teori tersebut.

Sebut saja Abu Raihan Al-biruni yang menulis secara gamblang di kitab Qonun Al-Masudi tentang bantahan-bantahan beliau terhadap teori model Geosentris yang di tawarkan Ptolemy dan bertahan cukup lama sekali. Ada beberapa point yang menjadi titik fokus pada hantahan Al-Birruni dalam makalah ini. Ada beberapa statement yang di tulis Birruni dalam kitab tersebut meski tidak ada penjelasan yang detail teekait tekhnik burruni sehingga memberikan beberapa statement bantahan terhadap teori dari Ptolemy yang pada akhirnya ide dasar Al birruni tersebut di adopsi oleh Copernicus. Adapun statement bantahan-bantahan tersebut berdasarkan kitab Qonun Al-Masudi seperti di bawah ini.

• Putaran bumi (gerakan bumi) berputar pada dirinya sendiri (rotasi) dr timur tanpa berpindah dari tempatnya.

• Adanya gerakan bintang-bintang di langit yang disebut dengan gerakan kedua di bagian timur. Sedangkan bumi : bergerak dengan gerakan pertama di sebelah barat. Hal ini agar tidak terjadi tabrakan di langit dari benda-benda langit tersebut.

• Hal ini di bangun bahwa gerakan yang pertama tidak memiliki pengaruh terhadap gerakan benda lain karena memiliki garis edar sendiri.

• Sedangkan Ptolomy meremehkan hal-hal demikian. Yang berkaitan dengan gaya tarik menarik antara benda yang besar dan benda yang kecil atau dalam bahasa lain adalah gaya gravitasi. Hal ini membuktikan bahwa Ptolemy lebih cenderung pasih dan mengikuti pendapat yang ada tanpa adanya pengecekan secara ilmiah.

• Sedangkan Aristoteles dan golongannya, yang mengusung filsafat alam berpendapat bahwa bumi bersifat diam tidak bergerak baik gerakan terhadap dirinya sendiri maupun maupun gerakan yang keluar dari dirinya maupun gerakan yang keluar dari dirinya sendiri (rotasi dan revolusi).

• Berdasarkan keilmuan jika bumi bergerak dengan gerakan mendorong atau menolak (gravitasi) sesuatu seperti awan yang diam di udara maka akan terlihat selalu bergerak keseelah barat.

• Sedangkan Birunni telah melakukan eksperimen dan pengamatan dalam ilmu falak, bahwa tidak akan jatuh sesuatu yang berat ke bumi (gaya gravitasi bumi), dan akan tertarik pada benda lain yang gaya gravitasinya lebih besar.

• Dalam kitab ini Biruni juga menuliskan tentang penemuanya terkait ukuran kemunduran ufuk.

• Selain itu Biruni juga menuliskan berdasarkan eksperimennya bumi bergerak sebesar 360˚ , 24 jam, 1778 hasta.

Dari statement statement diatas sesungguhnya birunni telah melakukan analisa yang cukup mendalam terhadap teori sebelumnya sehingga mengetahui letak kelemahan dari teori sebelumnya dan mengkritik beberapa hal sebagai bentuk bantahan karena tidak sesuai dengan eksperimen yang dilakukan oleh Birunni. Menutur penuli Al-Birunni dalam kerangka berfikirnya sudah menunjukan indikasi-indikasi ke teori heliosentris baik di tinjau dari hasil eksperimen maupun hitungan matematik, hal ini terbukti dari bukunya copernicus yang ternyata setelah diteliti sama persis hitungan matematik dengan milik Al-Biruni jauh sebelum masa Reneisans di Eropa.

C. Penutup

Dengan demikian jelas bahwa Abu Raihan al-Biruni adalah tokoh saintis muslim yang cukup dikagumi pada masanya terbukti dengan berkali-kali daerah yang ditinggalinya berganti penguasa namun dengan kelihaian biruni dalam ilmu pengetahuan serta penyampaian teori yang cukup diplomatis sehingga mampu menarik perhatian penguasa dan para pemimpin saat itu.

Dengan makalah ini penulis berharap mampu menjelaskan sedikit ilmu yang telah di miliki al-Biruni sehingga mampu memashurkan nama biruni sebagai salah satu ilmuan muslim yang cukup terkenal.

DAFTAR PUSTAKA

Kh.U. sadykov, Abu Raihan Al-Biruni dan karya dalam Astronomi dan Geografi, Matematika, (2007) Jakarta: Suara bebas.

Ramdan, Anton Islam dan Astronomi, (2009) Jakarta: Bee Media.

Sucipto Hery, The Great Muslim Scientist, (2008) Jakarta: Grafindo khazanah Ilmu.

Tjasyono Hk Bayong, Ilmu kebumian dan Antariksa, (2009) Bandung, Rosdakarya.

http://id.wikipedia.org/wiki/Bumi

http://www.conservapedia.com/Geocentric_theory

http://id.wikipedia.org/wiki/Heliosentrisme

http://en.wikipedia.org/wiki/Abu_Rayhan_Biruni

http://miftachudin.wordpress.com/2008/08/01/abu-raihan-al-biruni-filsuf-dan-fisikawan-ulung/

Tinggalkan komentar

Filed under Uncategorized

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s