Kritik Hadits

BAB I

PENDAHULUAN

Sunnah merupakan segala hal yang berasal dari Nabi saw yang telah termuat dalam ajaran Islam, dan dipraktekkan serta diterapkan dalam pendidikan umat Islam, sebagaimana yang disebutkan dalam firman Allah surat Al-Imran ayat 164:

ô‰s)s9 £`tB ª!$# ’n?tã tûüÏZÏB÷sßJø9$# øŒÎ) y]yèt/ öNÍkŽÏù Zwqߙu‘ ô`ÏiB ôMÎgÅ¡àÿRr& (#qè=÷Gtƒ öNÍköŽn=tæ ¾ÏmÏG»tƒ#uä öNÍkŽÅe2t“ãƒur ãNßgßJÏk=yèãƒur |=»tGÅ3ø9$# spyJò6Ïtø:$#ur bÎ)ur (#qçR%x. `ÏB ã@ö6s% ’Å”s9 9@»n=|Ê AûüÎ7•B ÇÊÏÍÈ

.Sungguh Allah Telah memberi karunia kepada orang-orang yang beriman ketika Allah mengutus diantara mereka seorang Rasul dari golongan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah, membersihkan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka Al Kitab dan Al hikmah dan Sesungguhnya sebelum (kedatangan Nabi) itu, mereka adalah benar-benar dalam kesesatan yang nyata.

Semua hal yang berasal dari Nabi saw itu tercermin dalam sabda-sabda Rasulullah saw, perbuatan dan ketetapannya. Bermula dari pesan singkat Hasan Hanafi, bahwa “apabila seseorang bermaksud menginterpretasi sesuatu, maka yang pertama kali harus diperhatikan adalah kevalidan dari data yang akan ia interpretasi tersebut”.[1] Berkaitan dengan pesan tersebut, maka dalam segala hal, terlebih keberadaan suatu aturan, sebelum orang menginterpretasi harus dipastikan keabsahannya.

Dalam agama Islam, hadits menempati urutan kedua setelah al-Quran dalam keberadaannya sebagai sumber hukum. Dinomor dua-kannya hadits dalam tata aturan Islam tentunya dikarenakan hadits merupakan penjelas dari Al-Qur’an, yang menjelaskan apa-apa yang belum dijelaskan dalam Al-Qur’an atau apa-apa yang para sahabat belum mengerti. Kedudukan sanad dalam hadits sangat penting, karena hadits yang diperoleh/diriwayatkan akan mengikuti siapa yang meriwayatkannya. Dengan sanad suatu periwayatan hadits dapat diketahui mana yang dapat diterima atau ditolak dan mana hadits yang sahih atau tidak untuk diamalkan. Karena keberadaanya yang sangat penting itulah, maka orang Islam sebelum menerjemahkan, menafsiri ataupun mengimplementasikan hadits terlebih dahulu harus memastikan kevalidan sanad atau matan hadits tersebut.[2]

Kata naqd dalam bahasa arab lazim diterjemahkan dengan kritik, yang berasal dari bahasa latin. Kritik itu sendiri berarti menghakimi, membanding, menimbang.[3] Naqd dalam bahasa popular berarti penelitian, analisis, pengecekan dan pembedaan. Selanjutnya, dalam pembicaraan umum orang Indonesia, kata  kritik berkonotasi pengertian bersifat tidak lepas percaya, tajam dalam penganalisaan, ada uraian pertimbangan baik buruk terhadap suatu karya.[4] Dari tebaran arti kebahasaan tersebut, kata kritik bisa di artikan sebagai upaya membedakan antara yang benar (asli) dan yang salah/ tiruan (palsu).

Sedangkan sebagai sebuah disiplin ilmu kritik hadits adalah : penetapan status cacat atau ’adil pada perawi hadits dengan menggunakan idiom khusus berdasarkan bukti-bukti yang mudah diketahui oleh para ahlinya, dan mencermati matan-matan hadits sepanjang sahih sanadnya untuk tujuan mengakui validitas atau menilai lemah, dan upaya menyingkap kemusykilan pada matan hadits yang sahih serta mengatasi kejala kontradiksi antar matan dengan mengaplikasikan tolok ukur yang detail.[5]

Pada dasarnya ada faktor-faktor yang menjadi argumen mengapa kita melakukan krtik hadits, salah satunya adalah untuk menilai apakah secara historis sesuatu yang disebut sebagai hadits Nabi itu benar-benar dapat dipertanggung jawabkan kesahihhanya berasal dari Nabi ataukah tidak. Hal ini sangat penting mengingat kedudukan kualitas hadits erat sekali kaitannya dengan dapat atau tidaknya dijadikan hujjah agama.[6] Selain itu proses pengkodifikasian hadits yang dilakukan sekitar 15 abad setelah meninggalnya Nabi, sehingga banyak hadits yang berkembang di masyarakat tanpa mereka sadari apakah hadits itu benar-benar dari Nabi. Belum lagi ada beberapa hadits palsu yang tersebar di masyarakat dan hadits itu tidak luput dari pengaruh politik, bisnis, serta kepentingan-kepentingan pribadi.

Meski demikian sesungguhnya kritik hadits telah ada sejak masa Nabi namun tidak terlalu menonjol karena memang pada saat itu Nabi masih hidup sehingga ketika ada beberapa hadits yang dirasa ambigu maka langsung ditanyakan kepada sumbernya, namun keadaan berbalik arah setelah meninggalnya Nabi, pergolakan terutama pada aspek politik sangatlah kuat dan pertama ditemukan hadits palsu adalah pada masa Ali bin Abi Thalib.

Dengan demikian makalah ini membahas tentang pengertian kritik eksternal dan internal sekaligus metodologinya disertakan dengan contoh-contohnya.

BAB II

PEMBAHASAN

  1. A. Sejarah Perkembangan Kritik Hadits

Kritik Hadits Pada Masa Nabi, Tradisi atas kritik pemberitaan hadits ada sejak pada masa Nabi hidup. Motif kritik pemberitaan hadits lebih bercorak konfirmasi, klarifikasi, dan upaya memperoleh testimoni yang target akhirnya menguji validitas keterpercayaan berita. Kritik bermotif konfirmasi yakni upaya menjaga kebenaran dan keabsahan berita, antara lain kejadian yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah tentang seorang pria yang tertolak pinangannya untuk mempersunting wanita Banu Laits, lokasi pemukiman itu kurang lebih 1 mil dari Madinah. Ia tampil berbusana kostum dimana potongan, warna, dasar dan cirri-ciri lain yang benar-benar mirip keseharian Nabi, kedatangan pria itu seperti pengakuanya membawa pesan Nabi untuk singgah ke rumah siapapun yang dalam versi lain menyatakan untuk membuat perhitungan hukum sendiri. Ternyata pilihan rumahnya jatuh ke rumah wanita yang gagal dipinangnya. Segera warga kabilah tersebut mengirim kurir menemui Nabi untuk mengkonfirmasi atas pengakuan sepihak pemuda tersebut. Setelah sampai pada Nabi, Nabi segera mengutus Abu Bakar dan Umar untuk menangkap pria itu, ternyata pria itu adalah seorang yang munafik dan akhirnya pria itu dihukum mati.

Kritik bermotif klarifikasi yakni penyelarasan dan mencari penjelasan lebih kongkrit antara lain seperti menyangkut laporan Walid ibn Ubah yang ditugasi sebagai amil sodakoh terhadap warga muslim Banu Musthaliq. Walid yang pada masa lalu pernah terlibat dalam kasus pembunuhan dengan korban warga Banu Musthaliq larut terbawa halusinasi balasan balas dendam dari mereka. Membaca gelagat penyambutan adat kabilah dengan persenjataan lengkap semakin mengentalkan halusinasi tersebut, Walid selanjutnya merekayasa laporan bahwa Banu Musthaliq telah memasang perangkap untuk membunuh setiap petugas zakat yang dikirim Rasulullah. seperti tertulis pada redaksi surat al-Hujurat:6, dimana Rasulullah nyaris percaya pada laporan Walid tersebut, saat itu juga mengamanati Khalid ibn Walib untuk klarifikasi dan ternyata tidak demikian halnya.

Motif kritik lain menyerupai upaya testimoni, yaitu mengusahakan kesaksian dan pembuktian  agar sesuatu yang tersinyalir diperbuat oleh Nabi seperti keseriusan Umar bin Khatab ketika menjumpai Nabi selepas jama’ah sholat subuh begitu mendengar berita dari tetangga dekat rumahnya bahwa Nabi telah menjatuhkan talak kepada semua istri beliau testimoni langsung diperoleh dari pengakuan Nabi, ternyata beliau hanya menjatuhkan ila’ (tekat tidak meniduri istri-istri yang ada dengan ikrar dibawah sumpah) untuk limit 1 bulan Qamariyah.

Pada masa pemerintahan khulafa’urrasyidin, kritik hadits mulai terlihat mencuat. Terbukti dengan semakin berhati-hatinya para sahabat dalam menerima hadits hal ini sebagaimana yang terjadi dengan Abū Bakar saat ditanya tentang bagian warisan seorang nenek. Begitu juga ‘Umar saat bertanya kepada Abū Musa al-‘Asy’ari tentang keabsahan anjuran mengetuk pintu sebanyak tiga kali saat bertamu. Bahkan Alī bin Abī Thālib tidak akan menerima hadits dari seseorang, sebelum ia bersumpah. Hal ini mengindikasikan bahwa para sahabat begitu antusias untuk memelihara sunnah Rasul.

Namun sejak terjadi perpeccahan dikalangan umat Islam, pada saat kepemimpinan khalifah Ali mulai banyak ditemukan hadits palsu, seperti:

يا علي إن الله غفرلك ولذريتك ولوالديك ولأهلك ولشيعتك ولمحبي شيعتك

“hai Ali sesungguhnya Allah mengampuni kamu, anak-anakmu, kedua orang tuamu, keluargamu, pengikutmu dan orang-orang yang mencintai pengikutmu”

الأمناء عند الله ثلا ثة: انا وجبريل ومعاوية

“orang-orang yang dapat dipercaya di hadirat Allah ada tiga: saya (Muhammad), Jibril dan Mu’awiyah”

Ketika permulaan masa tabi’in, geliat kritik hadits semakin besar. Hal ini disebabkan munculnya fitnah yang menyebabkan perpecahan internal umat Islam. Kondisi ini diperparah dengan merajalelanya para pemalsu hadits untuk mendukung golongan tertentu. Iklim yang tidak sehat ini menuntut para kritikus hadits agar lebih gencar dalam meneliti keadaan para perawi. Mereka lalu melakukan perjalanan untuk mengumpulkan sejumlah riwayat, menyeleksi dan membandingkannya, hingga akhirnya mampu memberikan penilaian atas setiap hadits.

Metode kritik hadits terus berkembang pesat, ditandai dengan lahirnya beberapa karya ulama tentang kritik sanad hadits. Kritikan tersebut ditulis dalam kitab tersendiri dan memuat seluruh riwayat yang dimiliki oleh masing-masing perawi. Hal ini dilakukan agar penilaan atas hadits benar-benar objektif, sebagaimana yang dilakukan Imam Ahmad dalam karyanya: Kitâbul ‘Ilal fi Ma’rifati’l Rijâl, atau Musnad al-Mu’allal” karya Ya’qub bin Syaibah.

  1. B. Metodologi Kritik Hadits

Konsep Jarh dan Ta’dil

Sunnah sebagai sumber hukum Islam, dijustifikasi dengan jelas dari berbagai firman Allah, sabda Nabi dan tradisi khulafa ar-Rasyidin, sunnah diposisikan sebagai interpretasi firman Allah. Namun, disisi keurgensiannya hadits sebagai sumber hukum Islam. Hadits atau sunnah pernah menjadi alat yang paling efektif dalam memecahkan persatuan kesatuan umat Islam.

Jarh dan Ta’dil sebenarnya berasal dari ilmu rijalil hadits. Tetapi, karena ilmu ini memiliki ciri dan spesifikasi yang agak unik, maka ilmu ini berdiri sendiri. Melalui ilmu ini kajian dan penelanjangan terhadap rawi hadits akan terjadi. Kredibilitas perawi hadits akan terukur jelas.

a. Pengertian dan Tokoh Pendiri Jarh dan Ta’dil[7]

Lafadz Jarh secara etimologi adalah melukakan badan yang mengeluarkan darah. Apabila dikatakan: Hakim menjarahkan saksi, maka ma’nanya: hakim menolak kesaksian saksi. (Ash-Shidieqy, 1981: 204). Menurut para muhadditsin jarh ialah sifat seorang rawi yang dapat mencecatkan keadilan dan hafalannya, menunjukkan atau membayangkan kelemahan seorang rawi. Menjarh atau mentajrih seorang rawi berarti menyipati rawi tersebut dengan sifat-sifat yang menyebabkan kelemahan atau tertolak apa yang diriwayatkannya.(Fathurrahman,(tt): 307)

Sedangkan Ta’dil ialah menunjukkan atau membayangkan kebaikan atau kelurusan seorang rawi. Rawi yang dikatakan adil ialah orang yang dapat mengendalikan sifat-sifat yang menodai agama dan keperwiraannya. Dengan memberikan sifat-sifat yang terpuji kepada seorang rawi sehingga apa yangdiriwayatkannya dapat diterima.

Musthafa Al-Siba’I berpendapat bahwa Jarh dan Ta’dil adalah ilmu hadits yang secara khusus membicarakan tentang sisi negatif dan positif perawi hadits. Artinya, periwayat hadits dari masing-masing thobaqat diteliti secara mendetail, apakah perawi itu dapat dipercaya atau tidak (amanah), handal (tsiqat), adil (’adalah), dan tegar (dlabith), atau sebaliknya, sampai di mana perawi itu berbohong, lalai atau pelupa.

Berbeda dengan pendapat Musthafa, sebagian ahli hadits menyatakan bahwa kritik sanad hadits pada zaman nabi belum ditemukan. Hai itu dapat difahami, karen aperiwayat pada dua masa itu disepakati dan termasuk dalam kategori ’udul (adil). Tapi tidak semua sahabat itu dlabith.

Terlepas dari skursus ini, pada dasarnya diantara nuqad (kritikus) hadits sepakat bahwa yang dimaksud dengan ilmu kritik hadits ialah ilmu yang membahas tentang memberikan kritikan adanya aib atau memberikan pujian adil kepada seorang rawi dengan maksud dan tujuan yang sama yaitu memurnikan hadits.

b. Tokoh-tokoh pendiri

Secara empiris, ilmu kritik hadits sudah ada sejak zaman sahabat Nabi. Di antara para sahabat sudah muncul perlunya menilai seorang perawi hadits. Namun demikian dalam tataran teoritis ilmiah, kritik hadits tampaknya baru terlihat pada masa Tabi’in (awal abak ke-2 Hijriyah) sampai abad ke-3 Hijriyah. Pada abad ke-4 sampai dengan abad ke-9 Hijriyah, sebenarnya masih juga muncul tokoh-tokoh yang mengembangkan ilmu ini, namun tingkat kesemarakannya tidak mampu menandingi fase tersebut di atas. Hal ini dapat terjadi karena terorientasi ilmiah sudah mapan di abad ke-3 Hijriyah. Karena itu ilmu kritik Hadits dimulai pada abad ke-1 sampai abad ke-3 Hijriyah.

1. Abad pertama Hijriyah

Abad pertama Hijrriyah telah memunculkan tokoh-tokoh rijalul hadits dari kalangan sahabat dan sebagian lagi dari kalangan tabi’in. Tokoh sahabat yang khusus membicarakan ilmu ini diwakili oleh Ibnu Abbas (w. 93 H), Ubadah Ibnu Shamit (w. 34 H), dan Anas bin Malik (w. 93 H), disusul oleh tokoh tabi’in seperti Sa’id ibnu Musayyab (w. 93 H).

2. Abad kedua Hijriyah

Penyusun ilmu Jarh dan Ta’dil pada abad kedua adalah Al-Sya’bi (104 H), Ibnu Sirrin (110 H), Syu’bah (160 H), dan Imam Malik (179 H). Di antara ulama yang secara khusus membicaraka dan mempelajari ilmu Jarh dan Ta’dil adalah: Muammar (153 H), Hisyam Al-Dustuwi (154 H), Al-Auza’i (156 H), al-Tawri (w. 161 H), Muhammad Ibnu Salamah (w. 167 H), dan Laits Ibnu Sa’id (w. 175 H). Setelah itu muncul generasi berikutnya seperti Ibnu Al-Mubarah (181 H), Al-Fazari (w. 185 H). Ibnu Uyayah (w. 197 H), Waqi Ibnu Al-Jarah (w. 197 H), dan setelah itu muncul dua tokoh yang menjadi standar dalam penilaian hadits yaitu Yahya Ibnu Said Al-qhatan (189 H) dan abdurrahman Ibnu Mahdi (198 H). Dua nama terkahir itu adalah tokoh menjadi acuan dalam penilaian terhadap perawi hadits, apa yang dikatakan kedua tokoh ini dapat diterima oleh tokoh-tokoh Jarh dan Ta’dil lainnya.

3. Abad ketiga Hijriyah

Penerus ulama ilmu kritik hadits di abad ketiga adalah sebagai berikut: Yazid bin Harun (206 H), Abu Dawud Al-Tayali (204 H), Abdul Raziq Ibnu Hammam (211 H) dan Abu Hasyim Al-Nabi Ibnu Mukhlad (212 H). Setela itu muncul generasi berikutnya yang mengsistematiskan penyusunan Jarh dan Ta’dil seperti: Yahya Ibnu Mu’in (w. 233 H), Ahmad Ibnu Hambal (w. 241 H), Muhammad Ibnu Sa’ad (230 H), Ali Ibnu Al-Maini (234 H), dab kemudian disusul oleh Bukhari dan Muslim.

c. Objek Penelitian

Objek yang terpenting dalam penelitian hadits adalah terhadap sejumlah periwayat yang mentranspormasikan riwayat hadits (kualitas sanad) dan materi hadits (matan hadits).

Kritik sanad adalah mempelajari rangkaian periwayatan hadits dengan cara mengetahui biografi masing-masing perawi, dipelajari juga tingkat kekuatan dan kelemahan perawi dalam mengingat hadits, sebab-sebab yang memungkinkan seseorang disebut kuat atau lemah. Kritik sanad beratti juga menjelaskan muttasil dan munqati perawi dalam rangkaian sanad. Mencakup dua hal yaitu tingkat intelektual rawi dan mekanisme isnadul khabar.

Dalam asfek sanad yang harus diperhatikan dalam kualitas dan kuantitas sanadnya meliputi: sanadnya bersambung, rawinya adil, dlabit, terhindar dari syadz dan tidak ber-illah. Kelima asfek tersebut adalah sebagai sumber adanya kepastian validitas suatu proses transformasi  hadits. Dengan demikian kritik sanad hadits ialah penelitian, penilaian, dan pelurusan sanad hadits tentang individu perawi dan proses penerimaan hadits dari guru mereka masing-masing dengan berusaha menemukan kekeliruan dan kesalahan dalam rangkaian sanad untuk menemukan kebenaran, yaitu kualitas hadits (sahih, hasan dan dhaif).

Kritik matan hadits adalah proses lanjutan dari kritik terhadap sanad. Studi ini merupakan konsekuensi logis yang sulit untuk dihindari. Kedua metode ini berjalan seirama karena sama-sama membersihkan hadits dari berbagai kemungkinan yang tidak benar. Kritik sanad bertujuan untuk melihat validitas dan kapabilitas menyangkut tingkat ketakwaan dan intelektualitas perawi hadits serta mata rantai periwayatannya, sedangkan kritik matan bertujuan untuk menyelidiki isi atau materi hadits.

Kritik matan dilakukan untuk melihat sejauh mana orsinilitas materi yang telah dikemukakan. Untuk itu, terdapat langkah-langkah dalam melakukan kritik terhadap matan. Langkah-langkah itu adalah:

1. Meneliti susunan kalimat yang semakna.

2. Meneliti kandungan matan.

3. meneliti matan mesti diawali dengan melihat kualitas sanad.

d. Syarat-syarat Untuk Menjadi Ulama Jarh dan Ta’dil

1. Beriman, bertaqwa, wara’, berilmu dan jujur.

2. Mengetahui sebab-sebab Jarh dan Ta’dil.

3. Mengetahiu penggunaan Bahasa Arab.

Syarat-syarat itu sangat penting untuk dimiliki oleh setiap ulama yang akan mengikuti dunia Jarh dan Ta’dil, dan syarat ini yang nampaknya diperlukan agar orang tidak mudah memberikan penilaian dengan kehendak hatinya atau dapat juga dimaksudkan untuk menjaga hadits. Artinya, hadits eksistensinya terlindungi dari hasrat seseorang yang merasa dirugikan, sehingga ia mencari-cari kelemahan hadits itu dan salah satu di antaranya dengan kaidah Jarh dan Ta’dil.

e. Kriteria dalam Menentukan Kritik Hadits

Untuk menghimpun hadits-hadits itu diperlukan kerangka ketelitian yang sangat tinggi, berupa kerangka ontologis (isi), epistemologis (cara) dan aksiologis (tujuan) yang akurat, agar yang dinamakan hadits itu benar-benar dapat dipertanggungjawabkan. Langkah awal para ulama dalam menetapkan kesahihan dan kelemahan suatu hadits adalah menentukan prinsip-prinsip dasar suatu hadits sebagai cara untuk melakukan elaborasi terhadap keberadaan hadits. Objek terpenting dalam penelitian hadits itu terhadap sejumlah periwayat yang mentranspormasikan riwayat hadits (kualitas sanad) dan materi hadits (kualitas matan).

Maksud mengevaluasi perawi hadits apakah layak atau tidak untuk ditetapkan sebagai periwayat shahih secara singkat ada dua syarat untuk perawi hadits yang ditetapkan oleh ilmu Jarh dan Ta’dil yaitu: Al-’Adalah (keadilan) dan Al-Dlabith. Persoalan selanjutnya adalah apakah evaluasi  negatif (Jarh) dan evaluasi positif (Ta’dil) diterima tanpa menjelaskan sebab-sebabnya. Dalam hal ini tampak berbeda di antara ulama Jarh dan Ta’di. Jarh yang tidak beralasan adalah tiap jarh yang ditujukan kepada seorang rawi hendaklah ada alasannya, dari perbuatan seorang rawi atau dari jalan lain. Ulama yang menjarh seorang rawi  dengan tidak menyebut alasannya tentu bagi ulama itu ada alasannya sendiri. Alasan yang menyebabkan ia menjarah seorang rawi belum tentu menjadi alasan bagi orang lain, karena ada banyak orang yang menjarh rawi, tetapi sebenarnya apa yang mereka tunjukkan itu bukan jarh. Jadi jarh yang tidak disebut alasannya belum dapat diterima dan dianggap untuk melemahkan seorang rawi. Seperti Bakr bin Amr Abu Sidiq an-Naji: kata Ibnu Hajar: ”Ibnu Sa’ad ada yang membicarakan bahwa Bakr dengan tidak beralasan

Jarh yang tidak diterangkan sebabnya ialah jarh yang tidak disebut atau diketahui sebab si rawi itu dianggap lemah, seperti seorang yang berkata: ”Si anu lemah”, ”Si anu tidak kuat” dan lain-lain. Menjarh seperti ini tidak diterima karena status penjarahannya masih gelap.Seperti Abdul Malik bin Shubbah al-Misma’i al-Bashri: ada orang yang meriwayatkan bahwa Al-Khalili pernah berkata: ”Abdul Malik tertuduh mencuri hadits”. Kata Ibnu Hajar ini adalah satu jarh yang tidak diterangkan sebabnya. Dikatakan seperti itu karena al-Khalili  tidak menunjukkan jalan tuduhannya.

f.Tingkatan Jarh Wa Ta’dil dan lafad-lafadnya:

Lafadz-lafadz Jarh adlah sebagai berikut:

1. Menilai lunak atau rendah dan hal ini menunjukkan yang paling ringan kejelekannya. Seperti: fulanun layyin al-hadits, fihi tsiqal, fi haditsihi dha’if dan lain-lain.

2.   Sesuatu yang ditegaskan dengan tidak ada hujah atau yang menyerupainya seperti: dha’ifun, lhu manakir dan lain-lain.

3.   Lafadz yang terng-terangan melarang haditsnya ditulis atau yang lainnya. Seperti: dha’Ifun jiddan, fulanun la yuktabu haditsuhu dan lain-lain.

4.  Lafadz yang menunjukkan tuduhan berdusta seperti: laisa bi tsiqqah,yaskuru al-hadits dan lain-lain.

5. Lafadz yang menunjukkan rawi disifati berdusta seperti: fullanun kaddzab, yakdzibu, dan lain sebagainya.

6.   Lafadz yang menunjukkan keterlaluan berdusta, seperti: fulanun akdzaba al nass.

Perawi yang berada pada dua tingkat pertama (no.1 dan 2), sudah tentu tidak dapat dijadikan hujjah. Hadits mereka ditulis hanya untuk i’tibar. Adapun sisanya, diterima juga tidak ditulis untuk dijadikan i’tibar. Karena hadits ini tidak kuat dan tidak dapat menguatkan hadita lainnya.

Para ulama hadits telah menetapkan lafadz-lafadz ta’dil dalam beberapa martabat, diantaranya:

  1. Lafadz yang menunjukkan shigat mubalghah (paling puncak) dalam tausik atau atas dasar wajan af’ala yang merupakan shighat paling tinggi.
  2. Lafadz yang diperkuat dengan satu atau dua sifat dari sifat tsiqat. Seperti: Tsiqatun-tsiqatun, tsiqat-tsabit, tsiqat-hujjah dan lain-lain.
  3. Lafadz yang menunjukkan pada satu sifat atas tsiqat tanpa ada penjelas. Seperti: tsiqat, hujjah.
  4. Lafadz yang menunjukkan pada ta’dil tapi tanpa menunjukkan adanya dlabith. Seperti: la ba`sa bihi.
  5. Lafadz yang menunjukkan pada dekatnya tajrih. Seperti; fulanun syaikhun.

Lafadz-lafadz pada no.1 dengan no. 3 rawinya dapat dijadikan hujjah, meskipun sebagian dari mereka ada yang lebih kuat dari sebagian yang lainnya. Adapun no.4 dan 5 rawinya tidak boleh dijadikan hujjah. Tetapi terkadang hadits mereka ditulis untuk diuji, meskipun tingkatan keempat berbeda dengan tingkatan rawi yang kelima.

  1. 1. Kritik Sanad

a. Pengertian Kritik Sanad

Menurut bahasa kata sanad mengandung arti jalan atau sandaran. Sedangkan menurut istilah hadits, sanad ialah jalan yang menyampaikan kita kepada matan hadits, selain itu ada beberapa pengertian sanad ialah rantai penutur/perawi (periwayat) hadits. Sanad terdiri atas seluruh penutur mulai dari orang yang mencatat hadits tersebut dalam bukunya (kitab hadits) hingga mencapai Rasulullah. Sanad juga memberikan gambaran keaslian suatu riwayat secara historis.[8] Jadi kritik sanad hadits ialah penelitian, penilaian, dan penelusuran sanad hadits tentang kualitas individu perawi serta proses penerimaan hadits dari guru mereka masing-masing dengan berusaha menemukan kekeliruan dan kesalahan dalam rangkaian sanad untuk menemukan kebenaran, yaitu kualitas hadits. [9]

Selanjutnya kegiatan kritik atau penelitian hadits bertujuan untuk mengetahui kualitas hadits yang terdapat dalam rangkaian sanad hadits untuk  diteliti memenuhi kriteria kesahihan sanad,  hadits tersebut digolongkan sebagai hadits sahih dari segi sanad.[10] Selain itu untuk memahami kritik tentang sanad hadits, perlu dahulu memahami ilmu-ilmu yang berkaitan dengan kegiatan penerimaan dan penyampaian hadits, serta penyandaran hadits kepada mata rantai para periwayat (rawi) nya. Ada tiga unsur yang harus dipenuhi dalam periwayatan hadits, yaitu (a) kegiatan penerimaan hadits dari periwayat hadits (b) kegiatan menyampaikan hadits itu kepada orang lain (c) ketika hadits disebutkan maka mata rantai pun juga disebutkan.[11]

b. Metodologi Kritik Sanad

Ada tiga peristiwa yang mengharuskan adanya kritik sanad hadits: pertama pada zaman Nabi tidak semua hadits tertulis. Kedua: sesudah zaman Nabi terjadi pemalsuan hadits. Ketiga: perhimpunan hadits secara resmi dan masal terjadi setelah banyaknya pemalsuan hadits. Padahal hadits adalah sumber ajaran Islam.[12] Adapun beberapa metode yang dapat digunakan dalam meneliti sanad hadits, yaitu: (a) menentukan kesahihan sanad hadits jika dilihat dari perawinya: 1. perawinya adalah orang-orang yang tsiqat,[13] 2. baik dalam ibadah, prilaku dan keadaan diri, 3. tidak menerima periwayat dari orang yang tidak dikenal memiliki pengetahuan hadits, 4. tidak boleh menerima hadits dari orang-orang yang suka berdusta, mengikuti hawa nafsunya dan tidak mengerti hadits yang diriwayatkannya, 5. tidak boleh menerima hadits dari orang yang tidak diterima kesaksiannya.[14] (b) memakai istilah Syuhudi Ismail dengan kaidah mayor berupa kesahihan sanad hadits  dan syaratnya masuk pada ranah minor[15] yaitu : 1. Sanad bersambung, yang dimaksud dengan sanad adalah tiap-tiap periwayat dalam sanad hadits menerima riwayat hadits dari periwayat terdekat sebelumnya, keadaan itu berlangsung demikian sampai akhir sanad dari hadits itu. Jadi seluruh rangkaian periwayat dalam sanad, mulai dari periwayat yang disandari oleh al-mukharrij (penghimpun riwayat hadist dalam karya tulisnya) sampai kepada riwayat tingkat sahabat yang menerima hadits yang bersangkutan dari Nabi, bersambung dalam periwayatan. Untuk mengetahui bersambung atau tidaknya suatu sanad, biasanya ulama hadits menempuh tata kerja penelitian sebagai berikut :

a.       Mencatat nama semua periwayat dalam sanad yang diteliti

b.      Mempelajari sejarah hidup masing-masing periwayat untuk mengetahui keadilan dan kedhabitan perawi ataukah tidak, apakah terdapat hubungan kesamaan zaman atau hubungan guru – murid dalam periwayatan hadits tersebut.

c.       Meneliti kata-kata yang menghubungkan antara periwayat dengan periwayat yang terdekat dalam sanad, apakah menggunakan kata-kata سمعت, سمعنا, حدثني, حدثنا  dan yang lainnya.[16]

2. periwayat bersifat adil, kata adil dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia berarti “tidak berat sebelah (tidak memihak) atau “sepatutnya, tidak sewenang-wenang”[17] diantara unsur-unsur kaidah minor periwayat yang adil adalah beragama Islam, Mukallaf, Melaksanakan ketentuan agama dan memelihara muru’ah. Secara umum ulama telah mengemukakan cara penetapan keadilan periwayat hadits (a) popularitas di kalangan ulama hadits (b) penilaian dari para kritikus hadits yang berisi kelebihan dan kekurangan perawi hadits (c) penerapan kaidah Al-jarh wa Ta’dil[18] cara ini di tempuh jika kritikus hadits tidak sepakat dengan kualitas perawi hadits.[19] 3. periwayat bersifat dhabit. Dari berbagai pendapat para ulama maka dapat disimpulkan sifat dhabit: (a) periwayat memahami dengan baik riwayat yang telah didengarnya (di terimanya) (b) menghafal dengan baik apa yang telah di dengar (c) mampu menyampaikan  riwayat yang telah didengarnya kapan saja dikehendaki sampai dia menyampaikan riwayat pada orang lain 4.terhindar dari syudzuz[20] yaitu hadits dikatakan mengandung syudzuz apabila hadits itu memiliki lebih dari satu sanad, para periwayat hadits yang terdapat dalam beberapa sanad itu seluruhnya tsiqat, matan dan atau sanad itu ada mengandung pertentangan.[21] 5. terhindar dari ‘illat yaitu cacat pada hadits adalah sebab yang tersembunyi yang dapat merusak hadits.

  1. 2. Kritik Matan

a. Pengertian Kritik Matan

Menurut  bahasa kata matan berasal dari bahasa Arab artinya punggung jalan (muka jalan yang tinggi dan keras). Matan menurut ilmu hadits adalah sabda Nabi yang disebut setelah sanad, dengan kata lain disebut isi hadits yang terbagi menjadi tiga ucapan, perbuatan dan ketetapan Nabi Muhammad. Sedangkan kritik matan adalah merupakan sebuah upaya untuk meneliti matan hadits hingga sampai pada kesimpulan atas keaslian atau kepalsuannya. Atau dengan kata lain kritik matan hadits lebih bergerak pada level pengujian apakah kandungan ungkapan matan itu dapat diterima sebagai sesuatu yang secara historis benar.[22]

  1. b. Metodologi Kritik Matan

Untuk mengetahui kriteria kesahihhan matan hadits, suatu matan hadits dapat dinyatakan maqbul (diterima) sebagai matan hadits yang sahih memenuhi unsur-unsur sebagai berikut: (1) tidak bertentangan dengan akal sehat (2) tidak bertentangan dengan hukum Al-Qur’an yang telah muhkam, tidak bertentangan dengan hadits mutawatir, dengan amalan yang telah menjadi kesepakatan ulama salaf, dengan dalil yang telah pasti, dengan hadits ahad yang kualitas kesahihanya lebih kuat.

Menurut jumhur ulama, tanda-tanda matan hadits yang palsu adalah 1. susunan bahasanya rancu,  2. isinya bertentangan dengan akal sehat contoh:

والباذنجان شفاء من كل داء

Terong itu obat dari setiap penyakit

3. isinya bertentangan dengan tujuan pokok ajaran Islam 4. bertentangan dengan hukum alam (sunnatullah) contoh:

مقدار الدنيا وأنها سبعة الاف سنة ويجئ فى الألف السابعة

5. bertentangan dengan sejarah dengan petunjuk Al-Qur’an dan hadits mutawatir, isinya berada diluar kewajaran di ukur dari petunjuk umum ajaran Islam.[23] Contoh:

أنا خاتم النبيين لا نبي بعدي إلا أن يشاء الله

Saya adalah penutup para Nabi, tidak ada Nabi setelah saya kecuali jika Allah berkendak

Selanjutnya menghimpun hadits apabila yang terjalin dalam tema, lafal dan makna yang sama: pertama mengumpulkan  hadits-hadits yang mempunyai sumber sanad yang sama baik dari riwayat bil lafdhi maupun riwayat bil ma’na, kedua hadits yang mengandung makna yang sama baik sejalan atau bertolak belakang, tiga hadits-hadits yang mempunyai tema yang sama. Namun hadits yang pantas diperbandingkan adalah hadits yang sederajat tingkat kualitas sanadnya.

Penelitian matan hadits dengan pendekatan hadits sahih selain membandingkan hadits dengan sanad yang sama, juga membandingkan hadits-hadits yang satu tema dengan sanad berbeda.

Penelitian matan hadits dengan pendekatan Al-Qur’an, pendekatan ini dilatarbelakangi oleh pemahaman bahwa adalah Al-Qur’an sebagai sumber pertama dan utama dalam Islam hadits yang bisa dibandingkan hanya sahih matan dan sanad.[24]

Penelitian matan hadits dengan pendekatan bahasa, ada beberapa objek: 1.struktur bahasa 2. kata-kata yang ada dalam matan hadits 3. matan-matan hadits menggambarkan bahasa keNabian 4. menelusuri makna kata yang terhadap dalam matan hadits

Pendekatan sejarah: dengan mengetahui peristiwa yang melatar belakangi munculnya suatu hadis atau asbabul wurud, fungsi Asbabul wurud 1. menjelaskan makna hadits, 2. mengetahui kedudukan Rasulullah pada saat kemunculan hadits, 3. mengetahui situasi kondisi masyarakat di sampaikan.

  1. 3. Contoh Kritik Hadits
  2. 1. Sanad

Conto kritik sanad hadits tentang pengaruh orang tua terhadap anak:

حدثنى اسحاق اخبرنا عبدالرزاق اخبرنا معمر عن همام عن ابى هريرة قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم ما من مولود الا يولد على الفطرة فابواه يهودانه وينصرانه كما تنتجون البهيمة هل تجدون فيها من جدعاء حتى تكونوا انتم تجدعونها

Pohon Sanad:

رسول الله

ابى هريرة

همام

معمر

عبدالرزاق

اسحاق

بخاري

Biografi Para Perawi Hadits:

  1. Imam Bukhari

Imam Bukhari nama lengkapnya Abu ‘Abdullah Muhammad ibn Isma’il ibn Ibrahim ibn al-Mughirah ibn Bardizbah al-Ja’fi al-Bukhari. Lahir di kota Bukhari pada tanggal 13 Syawwal194 H/810 M dan wafat di Samarkand pada malam ‘Idul Fitri tahun 256 H = 31 Agustus 870 M.

Imam Bukhari belajar hadits dari ulama hadits termasyhur, di antaranya: Malik ibn Anas, Hammad ibn Zayd, Ibn Mubarak, ‘Ali ibn al-Madini, Ahmad ibn Hanbal, Yahya ibn Ma’in, Muhammad ibn Yusuf al-Fiyabi, dan Ibn Rahawaih.

Sebelum mencapai usia enam belas tahun, Imam Bukhari telah berhasil menghafalkan beberapa kitab hadits, diantaranya karangan Ibnu al-Mubarak dan Waki’. Ia hapal 100.00 hadits shahih dan 200.00 hadits yang tidak shahih. Beliau tidak hanya menghapalkan matan hadits dan buku ulama terdahulu, tetapi ia juga mengenal betul biografi para periwayat yang mengambil bagian dan penukilan sejumlah hadits, data tanggal lahir, meninggal, dan tempat lahir.

Kekuatan ilmu dan hafalan Imam Bukhari, maka para guru, kawan, murid, dan generasi sesudahnya memujinya. Diantara mereka yang memuji Imam Bukhari adalah Abu Bakar Ibn Khuzaimah, al-Hakim, dan Ibnu Hajar al-Asqalani. Abu Bakar ibn Khuzaimah mengatakan: “di kolong langit ini tidak ada ahli hadits yang melebihi Imam Bukhari.” Al-Hakim menceritakan dengan sanad lengkap, bahwa Muslim yang menulis kitab shahih Muslim datang dan mencium antara kedua mata Imam Bukhari dan berkata: “Guru, biarkan aku mencium kedua kakimu. Engkaulah imam ahli hadits dan dokterpenyakit hadits.” Sementara Ibnu Hajar al-Asqalani mengatakan bahwa: “Seandainya pintu pujian dan sanjungan masih terbuka bagi generasi sesudahnya, niscaya kertas dan nafas akan habis, karena ia bagaikan laut yang tidak berpantai.”

Diantara guru Imam Bukhari adalah Ali ibn al-Madini, Ahmad ibn Hanbal, Yahya ibn Ma’in, dan ibn Rawaih. Adapun murid beliau di bidang hadits banyak sekali sehingga ada yang mengatakan murid Imam Bukhari sebanyak 90.000 orang. Diantara muridnya adalah Muslim al-Hajjaj, al-Turmuzi, Ibnu Khuzaimah, Ibnu Abu Daud, dan ibn Yusuf al-Fiyabi.[25]

2. Ishaq Nama lengkap  : Ishaq bin Ibrahim bin Makhlad bin Ibrahim bin Mathar al-hanzaly, Guru : Abdur Razzaq bin Hammam al-shanany, Abdullah bin Raja’ al-Makki, Hafs bin Ghiyats al-Nukhay, Murid : al-Jama’ah selain Ibn Majah, Hasan bin Sufyan, Abdullah bin Muhammad bin Ali al-Himyary an-Nasafy, Ahmad bin Sahl bin Malik al-Asfarayiny. Bukhari Pendapat kritikus  : Abbu Ayub : Tsiqah ma’mun Lahir : 161 H Wafat : pertengahan bulan Sya’ban th. 238 H

Ishaq bin Ibrahim terkenal dengan sebutan Ibnu Rahawaih al-Marwazi. Beliaulah yang menganjurkan kepada Bukhari untuk mengumpulkan hadits-hadits yang shahih dalam sebuah kitab. Karena anjurannyalah, Bukhari mengumpulkan hadits dalam kitab shahihnya

3. Abdur Razzaq Nama lengkap : Abdur Razzaq bin Hammam bin Nafi’ al-Himyary, Maulahum, al-Yamany, Abu akar as-Shan’any. Guru  : Ma’mar bin Rasyid, Ibrahim bin ‘Umar bin Kaisan as-Shan’any, Ibrahim bin Maimun as-Shan’aniyu, Mu’tamir bin Sulaiman. Murid : Ahmad bin Muhammad bin Hanbal, Ishaq bin Ibrahim bin Rahawaih, Ishaq bin Ibrahim bin ‘Ibad al-Dabari, Ishaq bin Ibrahim bin Nasr as-Sa’diyu, Yahya bin Ma’in. Pendapat kritikus: Ya’qub:Tsiqah, Abu Ahmad bin ‘Adi: Tsiqaat, Lahir : 126 H, Wafat : 211 H pertengahan bulan Sya’ban Kitab karyanya          : Mushannaf Abdirrazzaq.

4. Ma’mar Nama lengkap : Ma’mar bin Rasyid al-Azdy al-Huddany Guru : Hammam bin Munabbih, Yahya bin Abi Katsir, Mathar al-Warraq, Ibn Abi Syaibah, Hisyam bin ‘Urwah. Murid : Abdur Razzaq bin Hammam, Salamah bin Sa’id, Abdullah bin al-Mubarak, Abdul Malik bin Juraij Pendapat kritikus : Yahya bin Ma’in: Tsiqah, an-Nasa’i : Tsiqah, Abu Hatim :Shalih Wafat :154 H.

5. Hammam Nama lengkap : Hammam bin Munabbih bin Kamil, bin Siyaj al-Yamani, Abu ‘Uqbah as-Shan’any al-Anbawy Thabaqah : Tabi’i Guru : Abi Hurairah, Abdullah bin Zubair, Abdullah bin Abbas, Ibnu ‘Umar bin al-Khattab, Muawiyah bin Abi Sufyan Murid : Ma’mar bin Rasyid, Ali bin Hasan bin Attasy

Pendapat kritikus : Yahya bin Ma’in : tsiqah, Ibn Hibban : ats-tsiqaat, Wafat : 131 H, Hammam adalah adalah seorang tabi’i yang alim yang berguru kepada sahabat Abu Hurairah, dan mengutip hadits darinya banyak sekali. Hadits-hadits tersebut kemudian beliau kumpulkan dalam satu naskah yang dinamai Ash-Shahifah Ash-Shahihah.

6. Abi Hurairah

Nama lengkap Abu Hurairah banyak versi ada yang mengatakan bahwa namanya adalah Abu Hurairah al-Dawsi al-Yamani, versi lain mengatakan ‘Abd al-Rahman ibn Shahr. Abu Hurairah adalah kunyah yang diberikan kepadanya karena ia sering membawa anak kucing. Ia dilahirkan pada tahun 21 SH dan masuk Islam pada tahun ke-7  H. Ia wafat di Madinah pada tahun 57 H/636 M.

Guru dan murid Abu Hurairah dalam periwayatan hadits. Gurunya adalah Nabi Muhammad saw, Abu Bakar al-Shiddiq, ‘Umar ibn Khattab, ‘Utsman ibn Zaid. Muridnya antara lain ‘Abdullah ibn ‘Umar, Muhammad ibn Sirin, ‘Urwah ibn Zubair dan Hammam. Menurut Baqy ibn Makhlad, Abu Hurairah meriwayatkan hadits sejumlah 5374 hadits, sementara menurut al-Kirmani, beliau meriwayatkan hadits sebanyak 5364 hadits. Dari sejulah hadits tersebut, 325 hadits disepakati oleh Bukhari dan Muslim.

Ulama kritikus hadits yang memberikan penilaian terhadap Abu Hurairah: 1) ‘Abdullah ibn ‘Umar (w. 37 H) berkata bahwa Abu Hurairah lebih sering bersamaan Nabi saw daripada kami, lebih banyak menghafal hadits daripada kami, dan lebih banyak mengetahui hadits Nabi saw daripada kami. 2) Al-Syafi’I (w.206 H) berkata bahwa Abu Hurairah paling hapal hadits daripada periwayat-periwayat hadits pada zamannya, dan paling banyak meriwayatkan hadits daripada mereka. 3) Al-A’raj (w. 117 H) berkata bahwa Abu Hurairah banyak menerima hadits dari Nabi saw, selalu hadir pada majelis Nabi saw, dan tidak akan lupa apa yang telah didengarnya dai Nabi saw. dari pendapat para kritikus hadits di atas dapat dikatakan bahwa Abu Hurairah merupakan periwayat hadits yang tsiqah

  1. 2. Matan

Meneliti Susunan, Lafal Matan yang Semakna

Salah satu penyebab terjadinya perbedaan lafal matan hadits yang semakna adalah karena dalam periwayatan hadits telah terjadi periwayatan secara makna. Misalnya hadits tentang perdamaian :

حَدَّثَنَا اَبُوْ بَكْرِ بْنُ أَبِيْ شَيْبَةَ . حَدَّثَنَا خَالِدُ بْنُ مَخْلَدٍ حَدَّثَنَا كَثِيْرُ بْنُ عَبْدِ اللهِ بْنِ عَمْرِو بْنِ عَوْفٍ عَنْ أَبِيْهِ عَنْ جَدِّهِ قَالَ سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ : الَصُّلْحُ جَائِزٌ بَيْنَ الْمُسْلِمِيْنَ إِلَّا صُلْحًا حَرَّمَ حَلَالًا أَوْ أَحَلَّ حَرَامًا. ( رواه ابن ماجه ).

وفى رواية الاخرى :

حَدَّثَنَا سُلَيْمَانُ بْنُ دَاوُدَ الْمَهْرِىُّ أَنْبَأَنَا ابْنُ وَهْبٍ أَخْبَرَنِى سُلَيْمَانُ بْنُ بِلَالٍ ح وَأَخْبَرَنَا أَحْمَدُ بْنُ عَبْدِ الْوَاحِدِ الدِّمَشْقِىُّ أَخْبَرَنَا مَرْوَانُ يَعْنِى اِبْنُ مُحَمَّدٍ أَخْبَرَنَا سُلَيْمَانُ بْنُ بِلَالٍ أَوْ عَبْدُ الْعَزِيْزِ بْنُ مُحَمَّدٍ شَكُّ الشَّيْخِ عَنْ كَثِيْرِ بْنِ زَيْدٍ عَنْ الْوَلِيْدِ بْنِ رَبَّاح عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالََ : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : الَصُّلْحُ جَائِزٌ بَيْنَ الْمُسْلِمِيْنَ.

زاد أحمد :  إِلَّا صُلْحًا حَرَّمَ حَلَالًا أَوْ أَحَلَّ حَرَامًا, أَحَلَّ حَرَامًا أو حَرَّمَ حَلَالًا.

زاد سليمان ين داود : وقال رسول الله صلى الله عليه وسلم : الْمُسْلِمُوْنَ عَلَى شُرُوْطِهِم.

Artinya :

“Telah memberitahukan kepada kami Abū Bakar bin Abī Syaibah, telah memberitahukan kepada kami Khalid bin Makhlad, telah memberitahukan kepada kami Katsir bin Abdullah bin Amru bin Auf dari ayahnya dari kakeknya katanya: Aku telah mendengar Rasulullah SAW bersabda: “Perdamaian (membuat kesepakatan) itu diperbolehkan di antara orang-orang muslim, kecuali perdamaian (kesepakatan) untuk mengharamkan sesuatu yang halal atau menghalalkan sesuatu yang haram. (HR. Ibnu Majjah).

Dan pada riwayat yang lain :

“Telah memberitahukan kepada kami Sulaiman bin Daud Al-Mahri, katanya: telah memberikan khabar kepada kami Ibnu wahab, katanya: telah memberitahukan kepadaku Sulaiman bin Bilal dan telah memberitahukan kepada kami Ahmad bin Abdul wahid Ad-Dimasyqi katanya: telah memberitahukan kepada kami Marwan yaitu Ibnu Muhammad katanya: telah memberikan berita kepada kami Sulaiman bin Bilal atau Abdul ‘Aziz bin Muhammad Syakku Syaikh dari Katsir bin Zaid dari Al-Walid bin Rabbah dari Abū Hurairah r.a, katanya: Rasulullah SAW telah bersabda: “Perdamaian (membuat kesepakatan) itu diperbolehkan di antara orang-orang muslim.

Ahmad menambahkan, kecuali perdamaian (kesepakatan) untuk mengharamkan sesuatu yang halal atau menghalalkan sesuatu yang haram atau untuk menghalalkan yang haram atau mengharamkan yang halal. Sulaiman bin Daud menambahkan, Rasulullah SAW bersabda:  Orang-orang muslim (dalam perdamaian tersebut) bergantung pada syarat-syarat mereka.

Akibat dari perbedaan lafal itu adalah :

1.    Perbandingan

Dengan adanya perbedaan lafal pada matan yang semakna itu, maka metode muqarranah ini sangat penting untuk dilakukan, maka akan dapat diketahui apakah terjadinya perbedaan lafal pada matan tersebut masih dapat ditoleransi atau tidak. Metode ini tidak hanya dimaksudkan untuk mengkonformasi atas hasil penelitian yang telah ada saja melainkan  sebagai upaya untuk lebih mencermati susunan matan yang lebih dapat dipertanggungjawabkan keorisinilannya berasal dari Rasulullah SAW.

2.       Ziyadah

Ziyadah artinya tambahan. Ziyadah menurut ilmu hadits artinya tambahan lafal ataupun kalimat (pernyataan) yang terdapat pada matan, tambahan itu dikemukakan oleh periwayat tertentu, sedang periwayat tertentu lainnya tidak mengemukakannya.[26]

BAB III

PENUTUP

  1. 1. Kesimpulan

Dengan demikian apabila suatu hadits memenuhi persyaratan di muka, maka bisa dikategorikan sebagai hadits yang shahih  matan dan sanad. Setelah suatu hadits melewati 2 pos sensor yaitu sensor aspek sanad dan sensor aspek matan, maka nilai hadits tersebut tidak akan lepas dari 4 kemungkinan :

1. Sanad dan matan hadits bernilai shahih, sehingga hadits tersebut masuk dalam kelompok hadits shahih.

2. Sanad dan matan hadits tidak shahih, sehingga hadits tersebut masuk dalam kelompok hadits ghair ash-shahih.

3. Matan haditsnya shahih sementara sanadnya tidak shahih, sehingga hadits tersebut masuk dalam kelompok hadits ghair ash-shahih.

4. Sanadnya shahih, sedangkan matannya tidak shahih, versi ini juga masuk dalam kelompok hadits ghair ash-shahih

  1. 2. Saran

Pada dasarnya apa yang disampaikan pada makalah ini adalah bagian terkecil daripada proses atau metodologi penelitian hadits, namun denikian hal itu juga tidaklah cukup karena penelitian hadits tidaklah mudah, maka ada beberapa syarat minimal yang harus dipenuhi oleh seorang yang akan meneliti hadits tersebut, yaitu :

1.       Memiliki keahlian di bidang hadits

2.       Memiliki pengetahuan yang luas dan mendalam tentang ajaran Islam

3.       Telah melakukan kegiatan muthala’ah yang cukup

4.      Memiliki akal yang cerdas sehingga mampu memahami pengetahuan secara benar

5.       Memiliki tradisi keilmuan yang tinggi.

Adapun masalah yang sering dihadapi dalam kegiatan kritik adalah masalah metodologis dalam penerapan tolak ukur kaidah kritik terhadap hadits yang sedang diteliti. Hal itu disebabkan oleh butir-butir tolok ukur yang memiliki banyak segi yang dilihat. Sering pula peneliti menghadapi banyak problema. Dalam hal ini perlu kecermatan dan keahlian dalam menggunakan metode-metode kritik hadits. Dengan demikian, maka jelaslah bahwa pengetahuan-pengetahuan tentang asbabu al wurud hadits, mukhtalaf al hadits, sosiologi, antropologi dan lain-lain perlu dimiliki oleh peneliti  hadits

DAFTAR PUSTAKA

Abbas Hasjim, Kritik Matan Hadits, (2000) Jokjakarta: Teras

Assa’idi, Sa’dullah, Hadits-hadits Sekte (1996) Jokjakarta: Pustaka Pelajar

Bustamin at all, Metodologi Kritik Hadits (2004) Jakarta: PT Raja Grafindo

Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Kamus Umum Bahasa Indonesia (1988) Jakarta: Balai Pustaka.

Fathurrahman, Mustalahul Hadits, (1974) Bandung: Al Ma’arif.

Isma’īl, Dr. H.M. Syuhudi  dalam buku Yunahar Ilyas dkk, Pengembangan Pemikiran Terhadap Hadits, (1996) Universitas Muhammadiyah Yogyakarta: LPPI.

Ismail, Syhudi Kaidah Kesahihan Sanad Hadits telaah kritis dan tinjauan dengan pendekatan ilmu sejarah (1995) Jakarta: Bulan Bintang.

Ismail, Syhudi Metodologi Penelitian Hadits Nabi, (1992) Jakarta :Bulan Bintang.

Ismail, Syuhudi Hadits Nabi Menurut Pembela, Pengikut, dan Pemalsunya (1995) Jakarta: Gema Insani Press.

Jumantoro, Totok, Kamus Ilmu Hadits. (1997) Jakarta: Bumi Aksara

Poerwadarminta, W.J.S., Kamus Umum Bahasa Indonesia, (1985) Jakarta: Balai Pustaka. Cet ke-8.

Rahman, Fathur Ikhtisar Musthalahul Hadits, (1991).,Bandung: PT Al-ma’arif.

Semi,Atar kritik Sastra (1987) Bandung: Angkasa.

Shimogoki,Kazuo Pengantar dari Gus dur, Telaah Kritis Pemikiran Hasan HanafiKiri Islam Antara Modernisme dan Posmodernisme, (2007) Jokjakarta : LKis

.

Rasyid rizani, “Pokok-Pokok Masalah Dalam Kritik Sanad Dan Matan”, Website:http://www.pabanjarmasin.ptabanjarmasin.go.id/index.php?content=mod_artikel&id=13, Diakses pada Tanggal 05 November 2009, Jam 06.00



[1] Kazuo Shimogoki, Pengantar dari Gus dur, Telaah Kritis Pemikiran Hasan Hanafi Kiri Islam Antara Modernisme dan Posmodernisme, (Jokjakarta : LKis 2007),X

[2] Dr. H.M. Syuhudi Isma’īl dalam buku Yunahar Ilyas dkk, Pengembangan Pemikiran Terhadap Hadits, (Universitas Muhammadiyah Yogyakarta: LPPI, 1996),Cet. 1, 7

[3] Atar Semi, kritik Sastra (Bandung: Angkasa, 1987), 7

[4] Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Kamus Umum Bahasa Indonesia (Jakarta: Balai Pustaka, 1988), 466

[5] Hasjim Abbas, Kritik Matan Hadits, (Jokjakarta: Teras, 2000).,10

[6] Bustamin at all, Metodologi Kritik Hadits (Jakarta: PT Raja Grafindo, 2004). 3

[7] Fathurrahman, Mustalahul Hadits, (Bandung: Al Ma’arif, 1974)., 307

[8] Ibid.,6

[9] Ibid.,7

[10] Ibid.,7

[11] Sa’dullah Assa’idi, Hadits-hadits Sekte (Jokjakarta: Pustaka Pelajar, 1996)., 12

[12] Bustamin at all.,Op.Cit.,11

[13] Istilah siqat pada pada zaman dulu diartikan dengan kemampuan hafalan yang sempurna, tapi pada zaman selanjutnya siqat mengalami penggabungan istilah “adl dan dhabit”

[14] Syhudi Ismail, Kaidah Kesahihan Sanad Hadits telaah kritis dan tinjauan dengan pendekatan ilmu sejarah (Jakarta: Bulan Bintang, 1995)., 120

[15] Ibid., 127

[16] M. Syuhudi Isma’il, Kaedah Kesahehan Sanad Hadits,Op.Cit, 126

[17] W.J.S. Poerwadarminta, Kamus Umum Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka, 1985), Cet ke-8, 16

[18] Ilmu pengetahuan yang membahas tentang memberikan kritikan adanya aib atau memberikan pujian adil kepada seorang rawi. Kritik yang berisi celaan, dan pujianterhadap para periwayat hadits, lihat  Syhudi Ismail, Metodologi Penelitian Hadits Nabi, (Jakarta :Bulan Bintang, 1992).,72

Fathur Rahman, Ikhtisar Musthalahul Hadits, (Bandung: PT Al-ma’arif, 1991).,268

[19] Ibid., 134

[20] Para ulama berbeda pendapat tentang pengertian syudzudz suatu hadits, dari pendapat-pendapat itu ada 3 pendapat yang menonjol yaitu :a. Al-Hakim an-Naisaburi (w.405 H / 1014 M) mengemukakan bahwa hadits syudzudz ialah hadits yang diriwayatkan oleh orang yang tsiqāh, tetapi orang yang tsiqāh lainnya tidka meriwayatkan hadits itu. b.Abū Ya’la al-Khalili (w.446 H) mengemukakan hadits syudzudz ialah hadits yang sanadnya hanya satu buah saja, baik periwayatnya bersifat tsiqāh maupun tidak bersifat tsiqāh.c. Imam Syafi’i (w.204 H / 820 M) mengemukakan bahwa yang dimaksud dengan Hadits syudzudz ialah hadits yang diriwayatkan oleh orang yang tsiqāh, tetapi riwayatnya bertentangan dengan riwayat yang dikemukakan oleh banyak perawi yang tsiqāh juga. Pendapat ini yang banyak diikuti oleh ulama hadits sampai saat ini

[21] Bustamin Op.Cit.,57

[22]Rasyid rizani, “Pokok-Pokok Masalah Dalam Kritik Sanad Dan Matan”, Website:http://www.pabanjarmasin.ptabanjarmasin.go.id/index.php?content=mod_artikel&id=13, Diakses pada Tanggal 05 November 2009, Jam 06.00

[23] Syuhudi Ismail, Hadits Nabi Menurut Pembela, Pengikut, dan Pemalsunya ( Jakarta: Gema Insani Press 1995), 80

[24] Syhudi Ismail, Metodologi Penelitian Hadits (Jakarta: Bulan Bintang, 1992), 121

[25] Majid Khan,  dkk. Ulumul Hadits. (Jakarta: Pusat Studi Wanita (PSW) UIN Jakarta, 2005),241-242

[26] Menurut ibnu Shalah, ziyadah ini ada 3 macam :a. Ziyadah yang berasal dari periwayat yang tsiqāh yang isinya bertentangan dengan yang dikemukakan oleh banyak periwayat yang bersifat tsiqāh juga; ziyadah tersebut ditolak. Ziyadah seperti ini termasuk syadz. b. Ziyadah yang berasal dari periwayat yang tsiqāh yang isinya tidak bertentangan dengan yang dikemukakan oleh banyak periwayat yang bersifat tsiqāh juga; ziyadah tersebut diterima. Kata al-Khatib al-Bagdadi pendapat tersebut merupakan kesepakatan ulama. c. Ziyadah yang berasal dari periwayat yang tsiqāh berupa sebuah lafal yang mengandung arti tertentu, sedang periwayat lainnya yang bersifat tsiqāh tidak mengemukakannya. Ibnus salah tidak mengemukakan penjelasan tentang bagaimana kedudukan ziyadah model ketiga ini.

Tinggalkan komentar

Filed under Uncategorized

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s